- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Kemenag DIY Layangkan Surat Peringatan ke Ponpes Ash-Sholihah, Tegaskan Komitmen Pencegahan Kekerasan Seksual
Sleman, tvOnenews.com - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DI Yogyakarta melayangkan surat peringatan kepada Pondok Pesantren (Ponpes) Ash-Sholihah di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.
Surat tersebut menjadi bagian dari langkah pembinaan dan pengawasan Kemenag dalam memastikan penyelenggaraan pendidikan pesantren berjalan dengan mengedepankan perlindungan dan keselamatan santri.
Terlebih baru-baru ini, kasus dugaan kekerasan seksual mencuat di lingkungan Ponpes Ash-Sholihah. Kasus ini menyeret staf pengajar yang merupakan menantu pengasuh ponpes dengan alumni santriwatinya.
Kepala Bidang Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag DIY, Aidi Johansyah menegaskan komitmennya untuk mencegah segala bentuk kekerasan di lingkungan pesantren, termasuk kekerasan seksual.
"Kami menyampaikan surat peringatan dan penegasan terhadap Ponpes Ash-Sholihah. Surat ini berisi agar menaati tentang pelaksanaan pesantren anti kekerasan baik fisik, seksual dan sebagainya. Kami juga minta untuk melaksanakan program pesantren ramah anak," tutur Aidi kepada awak media ditemui di Ponpes Ash-Sholihah, Jumat (11/9/2026).
Kanwil Kemenag DIY merasa sangat prihatin atas kejadian ini. Harapannya, kasus ini bisa terselesaikan secara cepat dan baik.
Apabila surat peringatan tersebut tidak dilaksanakan, maka Kanwil Kemenag DIY akan melakukan evaluasi terhadap pesantren.
Selain itu, Kanwil Kemenag DIY juga sudah meminta beberapa data berkaitan dengan izin pendirian ponpes, izin statistik dan sebagainya. Tentu, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah mitra, khususnya Kemenag Kabupaten Sleman untuk melakukan cek data faktual di lapangan.
"Izin pendirian pondok lengkap. Kalau izin pencabutan nomor statistik, kita nantinya harus melakukan cek faktual apakah ada pelanggaran, tidak terpenuhinya keberadaan syarat pendirian pondok pesantren," terang Aidi.
Aidi juga mengatakan, bila aktivitas di lingkungan Ponpes Ash-Sholihah berjalan normal pasca kasus dugaan kekerasan seksual ini mencuat. Diketahui, ponpes ini memiliki sekitar 700 santri.
"Karena ini kan santrinya 700-an, nasib anak-anak kita yang disini juga harus kita pikirkan. Kami meminta pesantren bahwa ini merupakan ujian terberat dan para siswa yang nyantri disini tentu tetap diberikan motivasi agar tetap semangat dalam menempuh pendidikan," pungkas Aidi. (Scp)