news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi IHSG..
Sumber :
  • Antara

IHSG Ditutup Menguat ke Level 8.936, Sentimen Global dan Optimisme Domestik Jadi Penopang

IHSG ditutup menguat ke level 8.936 ditopang sentimen global dan optimisme domestik. Mayoritas sektor hijau, bursa Asia kompak menguat.
Jumat, 9 Januari 2026 - 17:47 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Jumat sore dengan penguatan, ditopang kombinasi sentimen positif dari dalam negeri maupun global. Pergerakan IHSG yang konsisten di zona hijau sejak pembukaan mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi ke depan.

IHSG ditutup menguat 11,28 poin atau 0,13 persen ke posisi 8.936,75. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut naik 0,40 poin atau 0,05 persen ke level 868,02.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai penguatan IHSG didukung oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal yang cukup solid. Menurutnya, pelaku pasar merespons positif berbagai data ekonomi yang memberi sinyal pemulihan daya beli dan stabilitas ekonomi.

“Sentimen eksternal dan internal menopang laju IHSG,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Sentimen Global Dorong Bursa Asia

Dari mancanegara, mayoritas bursa saham di kawasan Asia bergerak menguat. Salah satu sentimen utama datang dari Jepang, setelah data menunjukkan pengeluaran rumah tangga pada November 2025 meningkat secara tak terduga. Kenaikan ini memunculkan optimisme bahwa konsumsi domestik Jepang mulai pulih, sekaligus memberi sentimen positif bagi pasar regional.

Dari China, Biro Statistik Nasional merilis data inflasi Desember 2025 yang menunjukkan perbaikan. Inflasi tahunan tercatat sebesar 0,8 persen, sementara secara bulanan mencapai 0,2 persen, berbalik arah dari penurunan 0,1 persen pada bulan sebelumnya. Data ini dinilai mencerminkan mulai pulihnya permintaan domestik dan membaiknya daya beli masyarakat di Negeri Tirai Bambu.

Di sisi lain, investor global masih bersikap hati-hati sambil menanti rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) periode Desember 2025. Data tersebut dinilai krusial untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve.

Pelaku pasar juga mencermati potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif yang diberlakukan pada era pemerintahan Presiden Donald Trump. Putusan tersebut berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan global dan sentimen pasar keuangan.

Optimisme Konsumen Jadi Penopang Domestik

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:01
05:20
03:42
28:51
12:19
16:55

Viral