- Antara
IHSG Diproyeksi Bergerak Variatif, Rupiah dan Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar
Jakarta, tvOnenews.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa diperkirakan akan bergerak variatif. Sentimen dari dalam negeri hingga global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar saham domestik.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat menguat 46,52 poin atau 0,52 persen ke level 8.931,24. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan naik 5,21 poin atau 0,60 persen ke posisi 871,76.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menilai pergerakan IHSG hari ini cenderung fluktuatif dengan peluang bergerak dalam rentang tertentu. Menurutnya, pasar masih mencermati kombinasi sentimen domestik dan global yang saling berimbang.
“IHSG hari ini diprediksi bervariasi dalam kisaran 8.850 hingga 8.950,” ujar Ratih dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Tekanan Rupiah Jadi Sorotan Pasar
Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah yang melemah menjadi salah satu faktor yang berpotensi menekan kinerja IHSG. Pelemahan mata uang dinilai dapat berdampak langsung pada sejumlah sektor utama di pasar saham.
Ratih menjelaskan, kondisi tersebut berpengaruh terutama terhadap saham-saham di sektor konsumsi dan perbankan. Kedua sektor ini cukup sensitif terhadap pergerakan nilai tukar karena berkaitan dengan daya beli masyarakat serta biaya pendanaan.
Meski demikian, tekanan tersebut tidak sepenuhnya membayangi seluruh sektor. Pelaku pasar justru mulai melirik peluang di sektor lain yang dinilai memiliki sentimen positif dalam jangka pendek.
Sektor Material Dasar Berpeluang Menarik
Di tengah tekanan rupiah, sektor material dasar menjadi salah satu sektor yang patut dicermati. Reli harga komoditas global masih berlanjut dan memberikan dorongan terhadap saham-saham berbasis bahan baku.
Ratih menilai, pergerakan harga komoditas menjadi katalis positif bagi sektor ini. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah emas, meskipun secara intraday tercatat mengalami pelemahan terbatas.
Harga emas sebelumnya sempat melonjak signifikan dan menyentuh level tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di kisaran 4.630 dolar AS per troy ons. Koreksi tipis yang terjadi dinilai masih wajar setelah kenaikan tajam tersebut.