- ANTARA
Terungkap Penyebab Rupiah Menguat
Jakarta, tvOnenews.com- Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan kurs rupiah terkait euforia kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI-Rate) yang tak berubah.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.900-Rp16.950. Dari domestik masih terkait euforia kebijakan bunga BI yang tidak berubah dan arah kebijakan BI yang jelas untuk menjaga volatilitas rupiah," katanya kepada media di Jakarta, Kamis.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.929 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.936 per dolar AS.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 yang berlangsung pada Selasa (20/1/2026) dan Rabu ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen.
Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 3,75 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 5,5 persen.
BI menyampaikan keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global, guna mendukung capaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, BI juga akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini.
Selain itu, bank sentral Indonesia juga tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut dengan perkiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
"Dengan menahan bunga, maka BI telah meredakan ekspektasi negatif melalui sinyal kehati-hatian yaitu tidak tergesa-gesa menaikkan bunga, sehingga daya tarik aset domestik dapat tetap terjaga," ujar Rully.
Terkait sentimen global, ketegangan geopolitik antara Presiden AS Donald Trump dengan pemerintah Denmark terkait Greenland telah mereda.
Trump telah mencabut ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa, seiring AS dan Greenland yang dikabarkan telah mencapai "kerangka kesepakatan".
Selain itu, Trump juga menegaskan untuk tak menggunakan kekuatan militer dalam mengambil alih Greenland.
Sebelumnya, Trump telah beretorika terkait Greenland, termasuk ancaman tarif bertahap 10-25 persen terhadap delapan negara NATO, tarif 200 persen untuk anggur Prancis, serta kecaman terhadap Inggris, yang memicu lonjakan volatilitas.(ant)