- Istimewa
Harga Saham BBCA Turun ke Rp7.600, BBCA Tetap Jadi Fokus Investor di Tengah Pelemahan IHSG
Jakarta, tvOnenews.com – Harga saham BBCA atau PT Bank Central Asia Tbk mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Saham BBCA dibuka melemah 50 poin atau 0,65 persen ke level Rp7.600 per lembar, dari penutupan sebelumnya di Rp7.650. Pelemahan BBCA terjadi seiring pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga dibuka di zona merah.
Meski terkoreksi, BBCA tetap menjadi salah satu saham perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini, market cap BBCA tercatat sekitar Rp934 triliun, menjadikannya saham blue chip favorit investor jangka panjang di tengah volatilitas pasar.
Saham BBCA Tertekan Seiring Pelemahan IHSG
Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 97,47 poin atau 1,08 persen ke posisi 8.894,70. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan, termasuk BBCA, juga turun 8,52 poin atau 0,97 persen ke level 866,58.
Kondisi ini ikut menekan pergerakan harga saham BBCA hari ini, meskipun secara fundamental BBCA masih dipandang solid oleh pelaku pasar. Saham BBCA tercatat bergerak fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir, mengikuti sentimen global dan arah pergerakan IHSG.
Analis Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji level support di kisaran 8.850 hingga 8.950. Tekanan ini berpeluang membuat saham BBCA bergerak terbatas dalam jangka pendek, meskipun secara jangka panjang BBCA tetap dinilai menarik.
BBCA Tetap Menarik di Tengah Dinamika Pasar
Di tengah koreksi pasar, BBCA masih menjadi salah satu saham perbankan dengan likuiditas tinggi dan kinerja keuangan yang konsisten. Investor institusi maupun ritel masih aktif memperdagangkan BBCA, menjadikannya salah satu saham dengan volume transaksi terbesar di BEI.
Dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp934 triliun, BBCA juga menjadi penopang utama IHSG dan indeks LQ45. Oleh karena itu, setiap pergerakan harga saham BBCA kerap memberi dampak signifikan terhadap pergerakan pasar saham secara keseluruhan.
Pelaku pasar menilai koreksi BBCA ke level Rp7.600 masih tergolong wajar, seiring aksi ambil untung setelah saham perbankan tersebut sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, BBCA tetap menjadi saham defensif pilihan investor di tengah ketidakpastian global.
Sentimen Global Tekan IHSG dan BBCA
Dari sisi global, pasar mencermati perkembangan geopolitik Amerika Serikat dan Eropa, meskipun ketegangan dilaporkan mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberlakukan tarif tambahan terhadap Eropa.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pekan depan, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen. Sentimen ini turut memengaruhi pergerakan IHSG dan saham BBCA dalam jangka pendek.
Dari kawasan Asia, pasar menunggu data inflasi Jepang Desember 2025 yang diperkirakan melambat ke level 2,7 persen secara tahunan, serta keputusan Bank of Japan (BoJ) terkait suku bunga yang diperkirakan tetap di 0,75 persen.
Bursa Global Menguat, IHSG dan BBCA Masih Tertekan
Pada perdagangan Kamis (22/1/2026), bursa Eropa dan Wall Street kompak menguat. Indeks Dow Jones naik 0,63 persen, S&P 500 menguat 0,55 persen, dan Nasdaq naik 0,76 persen. Namun, sentimen positif global tersebut belum sepenuhnya tercermin di pasar saham domestik, termasuk pada pergerakan harga saham BBCA hari ini.
Di kawasan Asia, bursa bergerak bervariasi. Indeks Nikkei menguat 0,34 persen, Shanghai naik 0,15 persen, sementara Hang Seng melemah 0,34 persen. Pergerakan ini turut memengaruhi sentimen investor di BEI, termasuk terhadap BBCA.
Investor Disarankan Pantau Saham BBCA Secara Real-Time
Pelaku pasar diimbau untuk terus memantau pergerakan saham BBCA, terutama di tengah kondisi IHSG yang masih fluktuatif. Harga saham dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti sentimen global, data ekonomi, dan dinamika pasar domestik.
Meski BBCA hari ini mengalami koreksi, saham Bank Central Asia tersebut tetap menjadi salah satu pilihan utama investor karena fundamental kuat, kinerja stabil, serta posisi dominan di sektor perbankan nasional. Dengan karakter defensifnya, BBCA dinilai masih relevan sebagai saham unggulan dalam portofolio jangka menengah hingga panjang. (nsp)