news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi - Nasabah bertransaksi keuangan melalui mesin ATM Bank BRI di Jakarta.
Sumber :
  • ANTARA

ATM Tutup 1.399 Unit dalam Setahun, OJK Ungkap Penyebab dan Tren Perbankan ke Depan

ATM tutup 1.399 unit dalam setahun. OJK ungkap penyebab tren ATM tutup dan pergeseran layanan perbankan ke digital.
Senin, 26 Januari 2026 - 08:35 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Fenomena ATM tutup semakin nyata di Indonesia. Dalam kurun satu tahun terakhir, tercatat sebanyak 1.399 unit mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) tutup di berbagai wilayah Tanah Air. Data ini berdasarkan laporan Surveillance Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menunjukkan adanya perubahan besar dalam pola layanan perbankan nasional.

Berdasarkan data tersebut, jumlah mesin ATM, CDM (Cash Deposit Machine), dan CRM (Cash Recycling Machine) di Indonesia hingga kuartal III-2025 tercatat sebanyak 89.774 unit. Angka ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 91.173 unit. Artinya, ATM tutup bukan lagi fenomena sporadis, melainkan tren yang mulai menguat dalam industri perbankan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut tren ATM tutup ini diperkirakan akan terus berlanjut ke depan. Menurutnya, keputusan ATM tutup diambil masing-masing bank sebagai bagian dari strategi bisnis dan efisiensi operasional.

“Jumlah ATM yang secara tren mengalami penurunan pada dasarnya merupakan langkah yang dilakukan berdasarkan keputusan bisnis masing-masing bank. Tidak tertutup kemungkinan bahwa tren ATM tutup akan terus berlanjut,” ujar Dian dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

Ia menjelaskan, meningkatnya adopsi teknologi informasi di sektor keuangan menjadi faktor utama di balik maraknya ATM tutup. Digitalisasi perbankan membuat masyarakat semakin jarang datang ke kantor cabang atau mesin ATM, karena berbagai transaksi kini bisa dilakukan lewat aplikasi mobile banking dan internet banking.

Perubahan perilaku nasabah ini membuat kebutuhan terhadap mesin ATM terus menurun. Mulai dari transfer uang, pembayaran tagihan, hingga pembelian produk digital kini dapat dilakukan hanya lewat ponsel. Kondisi tersebut mendorong bank untuk mengevaluasi keberadaan ATM fisik yang dinilai tidak lagi seefektif sebelumnya, sehingga keputusan ATM tutup pun menjadi langkah yang rasional secara bisnis.

Selain itu, tren ATM tutup juga sejalan dengan meningkatnya penggunaan transaksi non-tunai atau cashless di masyarakat. QRIS, dompet digital, hingga kartu debit dan kredit semakin mendominasi transaksi harian. Akibatnya, fungsi utama ATM sebagai sarana tarik tunai perlahan mulai berkurang, terutama di wilayah perkotaan.

Menurut Dian, digitalisasi perbankan tidak hanya mengubah pola transaksi, tetapi juga membantu bank meningkatkan efisiensi operasional. Pengurangan jumlah ATM fisik berarti bank dapat menekan biaya perawatan mesin, sewa lokasi, pengisian uang tunai, hingga biaya keamanan. Efisiensi tersebut diyakini akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan dan profitabilitas perbankan secara keseluruhan.

“Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan dan mendukung profitabilitas perbankan,” tambahnya.

Meski tren ATM tutup semakin kuat, OJK menilai akses layanan keuangan masyarakat tetap terjaga melalui penguatan layanan digital dan perluasan jaringan agen bank. Dengan demikian, masyarakat masih dapat melakukan transaksi keuangan dasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada mesin ATM.

Namun, di sejumlah daerah, terutama wilayah rural dan terpencil, keberadaan ATM masih dinilai penting. Oleh karena itu, OJK mendorong perbankan untuk tetap mempertimbangkan aspek inklusi keuangan saat memutuskan ATM tutup, agar masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau layanan digital tetap memperoleh akses perbankan yang memadai.

Fenomena ATM tutup ini juga mencerminkan perubahan besar dalam ekosistem keuangan nasional. Indonesia kini bergerak menuju masyarakat yang semakin cashless, di mana transaksi berbasis digital menjadi pilihan utama. Hal ini dinilai mampu mempercepat perputaran uang, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta memperluas akses layanan keuangan berbasis teknologi.

Dengan 1.399 unit ATM tutup dalam setahun, industri perbankan nasional memasuki fase baru transformasi digital. Ke depan, bukan tidak mungkin jumlah ATM akan terus berkurang seiring dengan meningkatnya adopsi layanan digital. Meski demikian, bank tetap diharapkan menjaga keseimbangan antara efisiensi bisnis dan kebutuhan masyarakat akan akses layanan keuangan yang merata. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:58
07:37
08:43
02:27
01:02
05:57

Viral