news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi IHSG..
Sumber :
  • Antara

Jika RI Turun Kasta ke Frontier Market, Ini Dampak Besar bagi IHSG, Rupiah, dan Arus Modal

Pasar Indonesia terancam turun ke frontier market. Dana asing bisa keluar hingga Rp835 triliun, menekan IHSG, rupiah, dan kepercayaan investor global.
Jumat, 30 Januari 2026 - 07:26 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pasar saham Indonesia menghadapi risiko besar jika benar-benar turun kelas dari emerging market menjadi frontier market. Ancaman ini muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis perubahan metodologi free float yang berpotensi memicu reklasifikasi status Indonesia pada 2026. Jika skenario terburuk terjadi, dampaknya diperkirakan tidak hanya menghantam IHSG, tetapi juga nilai tukar rupiah, stabilitas pasar keuangan, hingga persepsi investor global terhadap ekonomi nasional.

Dalam beberapa hari terakhir, sentimen negatif sudah mulai terasa. IHSG terkoreksi tajam menyusul pengumuman MSCI, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arus keluar dana asing yang berpotensi masif. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, bahkan menyebut Indonesia kini harus bersiap menghadapi kemungkinan masuk kategori frontier market, sejajar dengan negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, hingga Senegal.

“Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke frontier market, kurang lebih US$25–50 miliar outflow. Saya serahkan balik kepada regulator bagaimana mereka mau bekerja di sini,” ujar Pandu dalam Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Potensi Dampak Besar bagi Pasar Indonesia

Jika Indonesia resmi turun kasta, dampaknya terhadap pasar domestik diperkirakan signifikan, antara lain:

  1. Arus Dana Asing Keluar Besar-besaran
    Dana asing yang keluar diperkirakan mencapai US$25–50 miliar atau sekitar Rp417–835 triliun (kurs Rp16.700). Angka ini setara dengan puluhan persen kapitalisasi transaksi tahunan di pasar saham Indonesia, sehingga berpotensi memicu tekanan jual berkepanjangan.

  2. IHSG Berisiko Masuk Fase Bearish
    Dengan berkurangnya partisipasi investor institusi global, likuiditas pasar bisa menurun drastis. Hal ini berisiko membuat IHSG bergerak lebih volatil dan sulit pulih dalam jangka pendek, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi incaran investor asing.

  3. Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah
    Arus keluar dana asing dari pasar saham berpotensi menular ke pasar obligasi dan valas. Jika capital outflow meluas, rupiah berisiko melemah tajam, meningkatkan tekanan inflasi impor serta biaya utang luar negeri.

  4. Turunnya Minat Investor Jangka Panjang
    Status frontier market biasanya diikuti persepsi risiko yang lebih tinggi. Banyak dana pensiun dan investor institusional global hanya diperbolehkan berinvestasi di emerging market, sehingga Indonesia bisa kehilangan basis investor jangka panjang yang stabil.

Efek Domino ke Dunia Usaha dan Pembiayaan

Reklasifikasi ke frontier market juga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan perusahaan nasional. Emiten yang ingin melakukan right issue, obligasi global, atau ekspansi berbasis pasar modal bisa menghadapi imbal hasil lebih tinggi karena risiko dianggap meningkat. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat ekspansi sektor riil dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, penurunan likuiditas pasar dapat membuat valuasi saham tertekan, sekalipun kinerja fundamental perusahaan masih solid. Kondisi ini berisiko menciptakan disconnect antara kinerja ekonomi domestik dan pergerakan pasar modal.

Mengapa MSCI Bisa Menurunkan Status Indonesia?

MSCI sebelumnya mengumumkan pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta menahan penambahan saham baru dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selain itu, perpindahan saham antar-segmen ukuran, seperti dari Small Cap ke Standard, juga dibekukan.

Langkah ini diambil untuk menekan risiko investability dan memberikan waktu bagi otoritas pasar Indonesia memperbaiki transparansi serta tata kelola free float. Jika hingga Mei 2026 belum ada perbaikan signifikan, MSCI membuka peluang untuk menurunkan bobot saham Indonesia dalam indeks emerging market dan bahkan mereklasifikasi Indonesia menjadi frontier market.

Regulator Diminta Bergerak Cepat

Pandu Sjahrir menilai situasi ini sebagai “wake up call” bagi otoritas pasar. Menurutnya, regulator perlu bergerak cepat dan lugas untuk membenahi kebijakan, bukan mencari pihak yang disalahkan.

“Apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini mungkin seperti mandi air dingin, tapi setelah itu jadi segar. Ini momentum untuk memperbaiki diri secara cepat dan tegas,” ujarnya.

Bagi pasar Indonesia, mempertahankan status emerging market bukan hanya soal prestise, tetapi menyangkut arus modal, stabilitas sistem keuangan, dan kepercayaan investor global. Jika turun kasta ke frontier market, tekanan terhadap IHSG, rupiah, serta dunia usaha berpotensi berlangsung dalam jangka panjang, kecuali ada langkah korektif yang cepat, terukur, dan kredibel dari regulator pasar modal. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

19:29
08:55
11:03
01:12
01:35
02:28

Viral