- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Wrap Up Pasar Modal Pekan Ini: IHSG Anjlok, Investor Waspada, Regulator Bergerak
Sebagai pengganti sementara, Friderica Widyasari Dewi ditunjuk untuk mengisi posisi Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Ia sebelumnya menjabat Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen.
Sementara itu, posisi Inarno Djajadi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal digantikan sementara oleh Hasan Fawzi, yang sebelumnya memimpin pengawasan inovasi teknologi sektor keuangan, aset digital, dan kripto. Adapun kursi Deputi Komisioner yang ditinggalkan Aditya Jayaantara hingga kini masih kosong dan dijalankan secara rangkap oleh anggota Dewan Komisioner lainnya.
Pemerintah Siapkan Reformasi Pasar Modal
Di tengah gejolak tersebut, pemerintah menyatakan akan mempercepat reformasi struktural pasar modal guna memulihkan kredibilitas bursa dan menarik kembali minat investor. Beberapa langkah yang tengah disiapkan antara lain:
-
Demutualisasi BEI, yakni mengubah status bursa dari organisasi berbasis keanggotaan menjadi entitas perusahaan yang dapat dimiliki publik atau pihak lain.
-
Peningkatan free float saham, dari minimal 7,5 persen menjadi 15 persen, untuk memperbaiki likuiditas dan kualitas pasar.
-
Penegakan hukum yang lebih tegas terhadap praktik saham gorengan dan manipulasi harga saham.
Terkait demutualisasi, BEI menyatakan terbuka bagi berbagai pihak yang berminat menjadi pemegang saham, termasuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang saat ini berperan sebagai superholding BUMN.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjawab kritik internasional terhadap tata kelola pasar modal Indonesia sekaligus memperbaiki persepsi investor global.
Suara Investor Ritel: Kepercayaan Harus Dipulihkan
Di sisi lain, investor ritel domestik menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi pasar. Yanto, investor saham yang telah berinvestasi lebih dari satu dekade, menilai praktik saham gorengan sudah lama berulang, namun penindakannya dinilai lamban.
“Kalau praktik seperti ini terus dibiarkan, investor asing akan semakin menjauh, dan investor ritel domestik yang jadi korban,” ujarnya.
Investor lain, Roben, meminta pemerintah dan regulator lebih serius melindungi investor publik. Menurutnya, pasar modal hanya akan bertahan jika dikelola secara transparan dan akuntabel, bukan sekadar menjadi tempat exit liquidity bagi pihak tertentu.
“Dana investor ritel sering kali berasal dari sebagian besar tabungan mereka. Nilainya mungkin kecil secara nominal, tapi sangat besar secara personal,” kata Roben.