news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi bitcoin..
Sumber :
  • tvOnenews

BTC Tertekan Tajam, Harga Bitcoin Anjlok dan Minat Investor Melemah di Tengah Perubahan Arah Pasar Kripto

Harga BTC kembali tertekan, Bitcoin turun tajam sepanjang 2026. Investor mulai bergeser ke aset lain, memicu pertanyaan baru soal masa depan BTC.
Senin, 23 Februari 2026 - 11:29 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com Pasar kripto kembali berada dalam tekanan kuat. Aset digital utama, termasuk BTC, kompak bergerak di zona merah dalam 24 jam terakhir, memperpanjang tren pelemahan yang sudah terjadi sejak awal tahun 2026. Koreksi tajam pada BTC memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar terkait arah pergerakan kripto ke depan.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (23/2/2026) pukul 08.00 WIB, harga BTC turun 4,01 persen ke level 65.296,31 dollar AS. Dalam sepekan, BTC melemah 5,12 persen. Jika ditarik lebih jauh, penurunan BTC secara bulanan mencapai 26,76 persen, sedangkan secara year to date BTC sudah terkoreksi 25,19 persen.

Kapitalisasi pasar BTC kini berada di kisaran 1,31 triliun dollar AS dengan volume transaksi harian sekitar 18,99 miliar dollar AS. Meski melemah, dominasi BTC terhadap keseluruhan pasar kripto masih tinggi, yakni 57,93 persen, menunjukkan BTC tetap menjadi acuan utama pergerakan aset digital global.

Namun tekanan tidak hanya terjadi pada BTC. Sejumlah altcoin besar ikut terseret. Ethereum turun 4,69 persen ke 1.881,10 dollar AS, XRP melemah 4,90 persen ke 1,359 dollar AS, dan BNB terkoreksi 4,92 persen menjadi 594,21 dollar AS.

Aset kripto berisiko tinggi bahkan mengalami pelemahan lebih dalam. Solana merosot 6,59 persen ke 79,53 dollar AS, Dogecoin turun 5,48 persen ke 0,09251 dollar AS, sementara Cardano terkoreksi 5,75 persen ke level 0,2624 dollar AS. Di tengah gejolak itu, stablecoin seperti USDT dan USDC relatif stabil di kisaran 0,999 dollar AS, menandakan investor mulai mencari perlindungan likuiditas.

BTC Hadapi Tekanan Terbesar Sepanjang Siklusnya

Laporan Bloomberg menyebut BTC kini menghadapi salah satu tekanan terdalam dalam sejarah perdagangannya, tanpa sinyal pemulihan yang kuat. Dari posisi puncaknya, nilai BTC telah merosot lebih dari 40 persen.

Selama ini pasar mengandalkan pola klasik “buy on dip” untuk mengangkat kembali harga BTC. Namun strategi tersebut kini dinilai tidak lagi efektif. Minat beli terhadap BTC melemah, sementara faktor pendorong reli sebelumnya justru berubah menjadi beban baru.

Dalam lanskap makroekonomi, emas dinilai kembali unggul sebagai aset lindung nilai. Untuk kebutuhan transaksi, stablecoin dianggap lebih stabil. Sementara bagi investor spekulatif, peluang keuntungan dinilai mulai bergeser ke instrumen lain di luar BTC dan pasar kripto.

BTC Kehilangan Narasi Penggerak Harga

Menariknya, tekanan terhadap BTC terjadi bukan karena kurangnya dukungan regulasi. Pemerintah Amerika Serikat justru dinilai semakin terbuka terhadap industri kripto. Adopsi institusional terhadap BTC juga meningkat, dengan keterlibatan lembaga keuangan besar yang semakin luas.

BTC seolah telah mendapatkan legitimasi yang selama ini diperjuangkan, tetapi legitimasi tersebut belum mampu menopang harga BTC di pasar.

Owen Lamont dari Acadian Asset Management menilai narasi utama BTC selama ini bertumpu pada ekspektasi kenaikan harga.

“Kisah utama BTC selama ini adalah harganya terus naik. Sekarang narasi itu tidak lagi ada,” ujarnya.

Menurutnya, ketika cerita tentang BTC berubah dari “harga naik” menjadi “harga turun”, daya tarik psikologis BTC bagi investor otomatis melemah.

Berbeda dengan saham atau komoditas yang memiliki indikator fundamental seperti laba, produksi, atau arus kas, nilai BTC sangat bergantung pada kepercayaan pasar dan arus investor baru. Ketika narasi tersebut memudar, harga BTC menjadi lebih rentan terhadap tekanan.

Pergeseran Minat Investor dari BTC ke Instrumen Lain

Tekanan terhadap BTC juga dipicu perubahan preferensi investor global. Banyak trader ritel yang masuk saat reli sebelumnya kini berada dalam posisi merugi, sehingga mengurangi eksposur mereka terhadap BTC.

Selain itu, munculnya berbagai instrumen spekulatif baru ikut mengalihkan perhatian pasar. Produk berbasis prediksi, derivatif komoditas, hingga instrumen alternatif dinilai menawarkan peluang yang lebih mudah dipahami dibandingkan BTC.

Noelle Acheson mengatakan bahwa ketika BTC diposisikan sebagai aset makro, maka BTC harus bersaing langsung dengan berbagai instrumen investasi lain yang memiliki narasi lebih sederhana.

Menurutnya, investor institusi kini membandingkan BTC dengan banyak alternatif yang lebih mudah dijelaskan kepada klien maupun pemegang kepentingan.

Kondisi ini membuat BTC tidak lagi berdiri sendiri sebagai aset unik, melainkan harus bertarung di arena yang jauh lebih kompetitif.

Pertanyaan Besar tentang Masa Depan BTC

Situasi saat ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai fungsi utama BTC ke depan. Jika BTC bukan lagi dianggap sebagai lindung nilai terbaik, bukan alat pembayaran paling efisien, dan bukan instrumen spekulasi paling menarik, maka posisi BTC dalam ekosistem keuangan global sedang diuji ulang.

Meski demikian, dominasi kapitalisasi pasar menunjukkan BTC masih menjadi jangkar utama industri kripto. Pergerakan BTC tetap menjadi indikator sentimen yang menentukan arah aset digital lainnya.

Pasar kini menunggu katalis baru yang mampu menghidupkan kembali narasi pertumbuhan BTC. Tanpa faktor pendorong yang kuat, BTC berisiko bergerak dalam fase konsolidasi panjang dengan volatilitas tinggi.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati arus dana institusional, kebijakan moneter global, serta perubahan perilaku investor sebagai penentu arah selanjutnya bagi BTC. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

41:24
01:28
05:31
02:52
06:55
12:51

Viral