news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber :
  • Tim tvOnenews/Abdul Gani Siregar

Ramai Isu Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India, Purbaya Tegas: Bukan Pakai Uang Negara!

Menkeu Purbaya menegaskan impor 105 ribu pikap untuk Koperasi Desa Merah Putih tidak memakai APBN, melainkan dibiayai pinjaman Himbara dengan skema cicilan pemerintah.
Senin, 23 Februari 2026 - 14:18 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah menegaskan bahwa rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penegasan ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa guna meredam kekhawatiran publik terkait potensi pemborosan fiskal.

Menurut Purbaya, skema pembiayaan pengadaan kendaraan tersebut sepenuhnya berasal dari pinjaman yang disalurkan oleh Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara, bukan dari belanja langsung pemerintah pusat.

“Pembiayaan Koperasi Desa Merah Putih berasal dari pinjaman bank-bank Himbara, bukan dari APBN,” ujarnya dalam konferensi pers laporan realisasi fiskal 2026.

APBN Hanya Bayar Cicilan, Bukan Belanja Barang

Purbaya menjelaskan, peran pemerintah melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia hanya sebatas membayar cicilan atas pinjaman tersebut secara bertahap. Pemerintah dijadwalkan mengangsur sekitar Rp40 triliun per tahun selama enam tahun ke depan.

Dengan kata lain, negara tidak mengeluarkan dana di muka untuk membeli kendaraan, melainkan menjalankan mekanisme pembiayaan yang bersumber dari lembaga perbankan. Skema ini disebut sebagai langkah menjaga keseimbangan fiskal sekaligus memastikan program tetap berjalan.

Ia menekankan bahwa mekanisme tersebut tidak menambah risiko terhadap kesehatan APBN karena pembayaran cicilan sudah diperhitungkan dalam struktur anggaran jangka menengah.

“Tidak ada tambahan risiko fiskal. Sebagian dananya juga disesuaikan melalui pengelolaan dana desa, sehingga tetap terkendali,” kata Purbaya.

Nilai Pengadaan Capai Puluhan Triliun

Rencana impor kendaraan ini sebelumnya menjadi sorotan karena nilai kontraknya disebut mencapai sekitar Rp24,66 triliun. Pengadaan dilakukan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara, yang bertugas menyediakan sarana distribusi dan logistik bagi jaringan koperasi desa di seluruh Indonesia.

Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa keputusan mengimpor kendaraan diambil setelah mempertimbangkan aspek efisiensi operasional dan ketersediaan unit yang sesuai kebutuhan program.

Menurutnya, pihak perusahaan sebenarnya telah memprioritaskan produk yang tersedia di dalam negeri maupun yang telah beredar di pasar nasional. Namun, kebutuhan jumlah besar dalam waktu relatif cepat membuat opsi impor dinilai paling realistis.

“Tujuan utama kami adalah memastikan pembangunan berjalan efisien, efektif, dan tepat guna sesuai arahan Presiden,” ujarnya.

Kendaraan untuk Memperkuat Distribusi Ekonomi Desa

Program Koperasi Desa Merah Putih dirancang sebagai tulang punggung distribusi logistik, pangan, dan hasil produksi desa. Kendaraan pikap dan truk akan digunakan untuk mempercepat mobilitas barang, memperpendek rantai pasok, serta meningkatkan akses pasar bagi pelaku usaha desa.

Pemerintah menilai bahwa persoalan utama ekonomi desa selama ini bukan hanya produksi, tetapi distribusi. Banyak hasil pertanian dan usaha mikro terhambat karena keterbatasan sarana angkut yang memadai.

Dengan adanya armada kendaraan operasional, koperasi diharapkan dapat berfungsi sebagai agregator ekonomi lokal—mengumpulkan, mengolah, dan menyalurkan produk desa secara lebih efisien.

Kritik dan Kekhawatiran Tetap Muncul

Meski pemerintah sudah menjelaskan skema pembiayaan, rencana impor dalam jumlah besar tetap menuai perhatian dari sejumlah pelaku industri otomotif dan pengamat ekonomi. Mereka mempertanyakan dampaknya terhadap industri kendaraan niaga dalam negeri serta potensi ketergantungan pada produk impor.

Namun pemerintah menilai proyek ini bersifat strategis dan berbasis kebutuhan logistik nasional, bukan sekadar pengadaan kendaraan biasa. Selain itu, skema pembiayaan melalui pinjaman dinilai memberikan fleksibilitas tanpa membebani kas negara secara langsung.

Skema Pembiayaan Disebut Lebih Adaptif

Pendekatan pembiayaan non-APBN seperti ini semakin sering digunakan dalam proyek berskala besar, terutama yang memiliki dampak ekonomi jangka panjang. Pemerintah bertindak sebagai penjamin keberlanjutan program melalui pembayaran cicilan, sementara penyediaan dana awal berasal dari sektor perbankan.

Model ini memungkinkan proyek berjalan tanpa menimbulkan lonjakan belanja negara sekaligus menjaga defisit anggaran tetap terkendali.

Purbaya menegaskan bahwa disiplin fiskal tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Ia memastikan setiap kewajiban pembayaran telah dihitung secara matang agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah Jaga Narasi: Ini Investasi, Bukan Beban

Di tengah polemik yang berkembang, pemerintah berupaya mengubah cara pandang publik terhadap proyek tersebut. Pengadaan kendaraan dinilai sebagai investasi infrastruktur ekonomi desa, bukan sekadar belanja barang.

Dengan dukungan transportasi yang memadai, koperasi desa diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperluas jaringan distribusi, dan memperkuat daya saing ekonomi lokal.

Penegasan Menteri Keuangan menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menjaga transparansi sekaligus memastikan bahwa setiap kebijakan besar tetap berada dalam koridor kehati-hatian fiskal.

“APBN tetap aman. Program jalan, ekonomi desa bergerak, dan fiskal tetap terjaga,” tegas Purbaya. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

41:24
01:28
05:31
02:52
06:55
12:51

Viral