- Antara
Harga Minyak Dunia Melejit 2 Maret 2026, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Analis energi menilai, gangguan lalu lintas di Selat Hormuz berpotensi menghentikan pasokan hingga sekitar 15 juta barel per hari ke pasar global. Jika situasi ini berlangsung lama tanpa adanya tanda-tanda deeskalasi, harga minyak diperkirakan akan kembali mengalami penyesuaian naik yang signifikan.
Tekanan harga minyak ini menimbulkan kekhawatiran lanjutan terhadap inflasi global. Kenaikan harga energi kerap menjadi “pajak tersembunyi” bagi dunia usaha dan konsumen, karena mendorong biaya transportasi, produksi, hingga harga barang kebutuhan sehari-hari. Dalam jangka menengah, lonjakan harga minyak juga berpotensi menekan permintaan dan memperlambat pemulihan ekonomi di berbagai negara.
Di sisi lain, negara-negara produsen melalui OPEC+ memang telah menyepakati kenaikan produksi sekitar 206 ribu barel per hari mulai April. Namun pasar menilai tambahan pasokan tersebut belum cukup menenangkan kekhawatiran, mengingat minyak yang diproduksi tetap harus dikirim melalui jalur laut yang saat ini berisiko tinggi akibat konflik.
Sejumlah analis membandingkan kondisi ini dengan krisis minyak era 1970-an, ketika embargo Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak hingga ratusan persen. Dalam nilai saat ini, harga minyak di kisaran US$90 per barel dinilai sangat mungkin tercapai jika gangguan pasokan berlangsung lama dan eskalasi militer terus berlanjut.
Ketegangan geopolitik juga mengguncang pasar keuangan global. Investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah. Harga emas melonjak lebih dari satu persen, sementara imbal hasil obligasi AS turun, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian.
Pasar saham global ikut tertekan. Indeks berjangka di Wall Street dan Asia melemah, terutama di negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak. Nilai tukar mata uang juga berfluktuasi, dengan franc Swiss menguat sebagai aset safe haven, sementara mata uang negara berbasis komoditas dan berisiko tinggi cenderung melemah.
Pernyataan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut konflik berpotensi berlangsung hingga beberapa pekan ke depan, semakin menambah kecemasan pasar. Pelaku pasar kini bersiap menghadapi periode volatilitas tinggi, sembari mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi global yang akan menentukan arah harga energi ke depan.