news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Harga Minyak Dunia Naik Jika Perang Iran-Israel Berlarut-larut.
Sumber :
  • Antara

Harga Minyak Dunia Melejit 2 Maret 2026, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Global

Harga minyak dunia 2 Maret 2026 melonjak tajam usai konflik Iran-Israel memanas dan mengancam pasokan global, memicu kekhawatiran inflasi.
Senin, 2 Maret 2026 - 08:00 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Harga minyak dunia hari ini, Senin 2 Maret 2026, melonjak tajam dan menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan harga dipicu eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel, yang berdampak langsung pada keamanan jalur distribusi minyak global serta mengganggu pengiriman dari kawasan produsen utama dunia.

Minyak mentah Brent sempat menembus level psikologis di atas US$80 per barel. Dalam perdagangan Asia, Brent mencapai puncak di US$82,37 per barel sebelum bertahan di kisaran US$79,34, atau melonjak sekitar 8,8 persen dalam satu hari.

Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melonjak sekitar 8 persen ke level US$72,38 per barel, setelah sebelumnya menyentuh harga tertinggi harian di US$75,33 per barel.

Kenaikan tajam harga minyak ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah, wilayah yang menyumbang porsi besar produksi dan distribusi energi dunia. Serangan militer dan balasan rudal yang terus berlanjut membuat risiko geopolitik melonjak dan memicu reaksi keras dari pasar komoditas global.

Situasi memanas setelah Israel melancarkan gelombang serangan terbaru ke wilayah Teheran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal ke sejumlah titik strategis. Eskalasi ini terjadi hanya sehari setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, sebuah peristiwa yang langsung mengguncang stabilitas kawasan dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global.

Dampak konflik tidak hanya terasa di darat, tetapi juga di laut. Setidaknya tiga kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan di kawasan Teluk, dan satu awak kapal tewas akibat serangan balasan. Kondisi ini membuat perusahaan pelayaran dan asuransi meningkatkan kewaspadaan, bahkan menahan kapal untuk melintas di jalur vital energi dunia.

Perhatian utama pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit namun krusial yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dunia dan hampir seperlima pengiriman gas alam cair global. Meski jalur ini belum sepenuhnya ditutup, data pelacakan maritim menunjukkan antrean kapal tanker mengular di kedua sisi selat, menunggu situasi dinilai cukup aman atau hingga kepastian asuransi pelayaran diperoleh.

Analis energi menilai, gangguan lalu lintas di Selat Hormuz berpotensi menghentikan pasokan hingga sekitar 15 juta barel per hari ke pasar global. Jika situasi ini berlangsung lama tanpa adanya tanda-tanda deeskalasi, harga minyak diperkirakan akan kembali mengalami penyesuaian naik yang signifikan.

Tekanan harga minyak ini menimbulkan kekhawatiran lanjutan terhadap inflasi global. Kenaikan harga energi kerap menjadi “pajak tersembunyi” bagi dunia usaha dan konsumen, karena mendorong biaya transportasi, produksi, hingga harga barang kebutuhan sehari-hari. Dalam jangka menengah, lonjakan harga minyak juga berpotensi menekan permintaan dan memperlambat pemulihan ekonomi di berbagai negara.

Di sisi lain, negara-negara produsen melalui OPEC+ memang telah menyepakati kenaikan produksi sekitar 206 ribu barel per hari mulai April. Namun pasar menilai tambahan pasokan tersebut belum cukup menenangkan kekhawatiran, mengingat minyak yang diproduksi tetap harus dikirim melalui jalur laut yang saat ini berisiko tinggi akibat konflik.

Sejumlah analis membandingkan kondisi ini dengan krisis minyak era 1970-an, ketika embargo Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak hingga ratusan persen. Dalam nilai saat ini, harga minyak di kisaran US$90 per barel dinilai sangat mungkin tercapai jika gangguan pasokan berlangsung lama dan eskalasi militer terus berlanjut.

Ketegangan geopolitik juga mengguncang pasar keuangan global. Investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah. Harga emas melonjak lebih dari satu persen, sementara imbal hasil obligasi AS turun, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian.

Pasar saham global ikut tertekan. Indeks berjangka di Wall Street dan Asia melemah, terutama di negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak. Nilai tukar mata uang juga berfluktuasi, dengan franc Swiss menguat sebagai aset safe haven, sementara mata uang negara berbasis komoditas dan berisiko tinggi cenderung melemah.

Pernyataan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut konflik berpotensi berlangsung hingga beberapa pekan ke depan, semakin menambah kecemasan pasar. Pelaku pasar kini bersiap menghadapi periode volatilitas tinggi, sembari mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi global yang akan menentukan arah harga energi ke depan.

Dengan situasi yang masih sangat dinamis, harga minyak dunia pada awal Maret 2026 diperkirakan tetap bergerak liar. Selama konflik Timur Tengah belum mereda dan keamanan jalur pasokan utama belum terjamin, tekanan kenaikan harga minyak berpotensi terus membayangi ekonomi global. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:06
02:00
31:29
06:07
02:10:05
06:57

Viral