- tvonenews.com/Abdul Gani Siregar
Pasar Bergejolak Hingga IHSG Anjlok 4 Persen, Rosan Sebut Dampak Perang Timur Tengah Sedang Dikaji
Jakarta, tvOnenews.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam hingga 4 persen ke level 7.600 pada perdagangan Rabu (4/3/2026) sesi pertama, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan dunia.
Sejak pembukaan, IHSG langsung tertekan 2 persen ke level 7.896 dari posisi sebelumnya 8.059. Tekanan berlanjut hingga akhir sesi pertama, dengan indeks ditutup merosot 4,3 persen ke level 7.596.
Merespons situasi ini, Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani menyatakan pemerintah terus memantau dan mengkaji dampak konflik global terhadap investasi dan perekonomian nasional.
“Kita melihat, mengkaji semua situasi yang ada ya, dan ini kan pertemuan dengan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) rutin kita terus berjalan, ya kita mengkaji dampaknya mungkin dari segi investasi, kemudian juga dari segi perekonomian, dari segi-segi lainnya, mungkin itu lah,” ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).
Ketika ditanya mengenai langkah konkret Danantara menghadapi eskalasi konflik, Rosan menegaskan pihaknya tengah melakukan pembahasan menyeluruh, terutama dalam aspek ketahanan investasi dan ekonomi.
“Ya itu pasti ada pembahasan juga dari kita, kan kita akan kaji itu semua lah. Dan mungkin dalam hal ini ya dari segi investasi, dari segi ketahanan ekonomi dan lain-lain,” jelasnya.
Pelemahan IHSG kali ini mencerminkan sensitivitas pasar domestik terhadap dinamika global, terutama konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan berpotensi mengganggu stabilitas energi serta arus perdagangan internasional.
Mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terjerembab. Data RTI Business mencatat 713 saham melemah, hanya 63 saham menguat, dan 37 saham stagnan.
Secara sektoral, koreksi terdalam terjadi pada sektor barang baku (-8,03 persen), transportasi (-6,8 persen), dan konsumen nonprimer (-5,6 persen). Seluruh indeks sektoral kompak berada di zona merah.
Di tengah gejolak tersebut, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings turut memberikan proyeksi negatif terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Analis pasar menilai rilis tersebut memperberat tekanan di bursa, memperkuat sentimen risk-off di kalangan investor.
Dengan tekanan eksternal yang meningkat dan sentimen lembaga pemeringkat global yang cenderung berhati-hati, pasar kini menanti respons kebijakan pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor serta stabilitas ekonomi nasional di tengah badai geopolitik. (agr/rpi)