- Istimewa
Ungkap Penyebab Turunnya PMI Manufaktur, Kadin Wanti-wanti Risiko Serius di Sektor Padat Karya
Jakarta, tvOnenews.com - Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal perlambatan pada Maret 2026. Data S&P mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur turun tajam ke level 50,1 dari sebelumnya 53,8, mendekati ambang batas stagnasi.
Merespons hal itu, Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin mengungkap penurunan ini dipicu oleh kombinasi tekanan permintaan dan biaya produksi yang meningkat di tengah situasi global yang belum stabil.
"Penurunan PMI Manufaktur Indonesia pada Maret 2026 terutama dipicu oleh pelemahan permintaan, khususnya penurunan pesanan ekspor baru, di tengah meningkatnya ketidakpastian global," ujar Saleh dalam pernyataan tertulis, Rabu (1/4/2026).
Mantan Menteri Perindustrian RI itu menjelaskan, selain guncangan dari sisi permintaan, industri juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya produksi.
Kedua faktor inilah yang semakin mempersempit ruang ekspansi sektor manufaktur.
"Selain itu, tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok turut menekan aktivitas industri. Kombinasi demand shock dan cost pressure ini membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, mendekati batas stagnasi (level 50)."
Menurut Saleh, kondisi ini membuat PMI Indonesia memang masih bertahan di zona ekspansi. Namun, dengan margin yang sangat tipis dan rentan terhadap gejolak eksternal.
"Ke depan, Kami selaku WKU Kadin bidang Industri cenderung melihat PMI masih berpotensi bertahan di zona ekspansi tipis, namun sangat rentan terhadap tekanan eksternal."
Lebih jauh, ia menyoroti risiko serius yang bisa berdampak dampak langsung dari pelemahan pesanan ekspor terhadap sektor manufaktur, terutama industri padat karya yang sangat bergantung pada permintaan global.
"Pelemahan pesanan ekspor tentu akan berdampak langsung pada sektor padat karya melalui penurunan utilisasi kapasitas, tekanan margin, dan potensi penyesuaian tenaga kerja. Maka dari itu arah dari PMI akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri."
Saleh menegaskan, prospek industri ke depan sangat bergantung pada sejumlah faktor kunci, mulai dari pemulihan ekonomi global, stabilitas harga energi, hingga respons kebijakan domestik dalam menjaga daya saing sektor manufaktur nasional.