- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Meski Naik, Harga Avtur RI Diklaim Bahlil Masih Lebih Murah dari Negara Tetangga
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim harga avtur yang dipasarkan PT Pertamina (Persero) masih lebih kompetitif dibandingkan negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Ia menyampaikan, meskipun terjadi kenaikan harga avtur, level harga di Indonesia tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
"Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain, khususnya tetangga, kita masih jauh lebih kompetitif," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/5/2026).
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta per 1 April 2026 mencapai Rp23.551 per liter.
Sebagai perbandingan, harga avtur di Thailand tercatat Rp29.518 per liter, sedangkan di Filipina sebesar Rp25.326 per liter.
Bahlil menjelaskan, kenaikan harga avtur dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, harga avtur mengikuti mekanisme pasar global sehingga penyesuaian harga tidak dapat dihindari.
Selain memenuhi kebutuhan domestik, avtur yang diproduksi di Indonesia juga digunakan untuk melayani pengisian bahan bakar pesawat internasional yang masuk ke Tanah Air.
"Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme yang terjadi adalah mekanisme pasar," kata Bahlil.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol sebelumnya memperingatkan potensi krisis bahan bakar avtur dan diesel akibat konflik di Timur Tengah yang telah berdampak ke Asia dan diperkirakan merembet ke Eropa pada April atau menjelang Mei 2026.
Ia menyebutkan, volume pasokan minyak yang hilang pada April diperkirakan dua kali lipat dibandingkan Maret.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu inflasi dan menahan laju pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan, terutama di negara berkembang yang memiliki keterbatasan cadangan devisa.
Sementara itu, CEO grup maskapai Lufthansa, Carsten Spohr, juga mengingatkan adanya risiko kelangkaan bahan bakar jet, khususnya di luar kawasan Eropa, akibat terganggunya rantai pasok imbas konflik di Timur Tengah. (ant/rpi)