- Antara
IHSG Menguat Tipis, Rupiah Justru Terkapar di Atas Rp17.000: Sentimen FTSE dan Tekanan Global Jadi Pemicu
Jakarta, tvOnenews.com - Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada Selasa (7/4/2026) menunjukkan dinamika yang kontras. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil dibuka di zona hijau. Namun di sisi lain, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan signifikan hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Fenomena ini mencerminkan adanya perbedaan sentimen antara pasar saham dan pasar valuta asing, yang dipengaruhi oleh faktor global, termasuk arah indeks FTSE dan kebijakan moneter AS.
IHSG Menghijau Tipis di Tengah Sentimen FTSE
IHSG tercatat naik 0,17 persen ke level 7.001 pada pembukaan perdagangan pagi ini, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 6.989,43. Kenaikan ini tergolong terbatas, namun cukup memberi sinyal positif bagi pelaku pasar domestik.
Salah satu faktor yang ikut menopang pergerakan IHSG adalah sentimen dari indeks FTSE global. Rebalancing indeks FTSE dan aliran dana asing yang masuk ke sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memberikan dorongan meski belum signifikan.
Sentimen FTSE juga menjadi perhatian investor karena berkaitan langsung dengan arus modal asing (capital inflow). Ketika saham-saham Indonesia masuk atau mendapat bobot lebih besar dalam indeks FTSE, potensi pembelian oleh investor global meningkat.
Namun demikian, penguatan IHSG masih cenderung terbatas karena pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap tekanan eksternal, terutama dari arah kebijakan suku bunga global.
Rupiah Melemah, Tertekan Dolar AS dan Sentimen Global
Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah justru mengalami pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.035 per dolar AS atau melemah 55 poin (0,32 persen).
Bahkan pada perdagangan pukul 09.15 WIB, rupiah sempat tertekan hingga Rp17.064 per dolar AS. Ini menandai tekanan lanjutan terhadap mata uang Garuda yang sudah berada di atas level Rp17.000.
Pelemahan rupiah ini tidak terlepas dari penguatan indeks dolar AS (DXY) yang masih tinggi. Ekspektasi bahwa suku bunga di AS akan bertahan lebih lama di level tinggi (higher for longer) membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar.