- Antara
Rupiah Melemah ke Rp17 Ribu, Benarkah Indonesia Terancam Krisis 1998?
Kepala Ekonom BCA, David Sumual menyebut kondisi ini sebagai hasil pembelajaran dari krisis sebelumnya.
“Perbankan kita sekarang jauh lebih kuat, salah satunya karena pengalaman krisis 1998,” ujarnya.
BI Punya “Amunisi” Lebih Kuat
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia kini memiliki instrumen yang jauh lebih lengkap dibandingkan era krisis 1998.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa bank sentral telah menyiapkan berbagai lapisan pertahanan (layer of defense) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Beberapa di antaranya meliputi:
-
Cadangan devisa yang memadai
-
Kerja sama swap bilateral dengan negara lain
-
Skema regional seperti Chiang Mai Initiative
-
Instrumen pasar untuk menjaga likuiditas
Dengan berbagai “amunisi” tersebut, BI mampu meredam gejolak tanpa harus melakukan kontrol ketat seperti di masa lalu.
Volatilitas Lebih Penting dari Level
Para ekonom menilai bahwa yang perlu diperhatikan bukan hanya level rupiah di Rp17 ribu, tetapi juga tingkat volatilitasnya.
Saat ini, volatilitas rupiah masih relatif rendah dibandingkan negara lain. Indeks volatilitas rupiah tercatat sekitar 4,75, jauh lebih stabil dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.
Hal ini penting karena stabilitas nilai tukar menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor.
“Yang dilihat pelaku usaha bukan levelnya, tapi volatilitasnya. Kalau stabil, mereka tetap percaya diri,” jelas David.
Tekanan Rupiah Masih Moderat
Pemerintah juga menilai tekanan terhadap rupiah masih dalam kategori moderat jika dibandingkan dengan negara lain.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad menyebut depresiasi rupiah masih terkendali dan didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat.
Beberapa indikator yang mendukung antara lain:
-
PMI manufaktur masih di zona ekspansi (50,1)
-
Pertumbuhan kredit sekitar 9,37 persen (yoy)
-
Inflasi terkendali
-
Rasio utang di bawah 60 persen
“Depresiasi rupiah masih terkendali dibandingkan negara lain,” ujarnya.
Strategi Antisipasi Terus Diperkuat
Bank Indonesia juga mendorong pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi fluktuasi nilai tukar. Langkah ini penting agar kebutuhan dolar tidak langsung dibebankan ke pasar spot.
Dengan strategi tersebut, tekanan terhadap rupiah dapat didistribusikan lebih merata dan tidak memicu gejolak berlebihan.