news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi rupiah..
Sumber :
  • Antara

Rupiah Melemah ke Rp17 Ribu, Benarkah Indonesia Terancam Krisis 1998?

Rupiah di atas Rp17 ribu bukan tanda krisis 1998. Ekonom sebut fundamental ekonomi RI jauh lebih kuat dan stabil.
Selasa, 14 April 2026 - 17:33 WIB
Reporter:
Editor :

 

Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini bertahan di atas Rp17.000/US$ memicu kekhawatiran publik. Banyak yang membandingkan kondisi ini dengan krisis moneter 1998. Namun, para ekonom menegaskan situasi saat ini sangat berbeda dan jauh lebih terkendali.

Berdasarkan data terbaru, rupiah dibuka melemah ke level Rp17.110/US$ pada perdagangan Selasa (14/4/2026). Posisi ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak awal April 2026 dan bahkan melampaui level terlemah saat krisis 1998.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti Indonesia kembali ke masa krisis.

Rupiah Melemah, Tapi Bukan Krisis

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis 1998.

Menurutnya, perbedaan paling mendasar terletak pada kekuatan fundamental ekonomi Indonesia yang kini jauh lebih baik dibandingkan masa lalu.

“Kalau dibandingkan 1998, kondisi sektor riil kita sekarang jauh lebih kuat,” ujarnya.

Pada krisis 1998, sektor riil Indonesia dinilai sangat rapuh, sehingga tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi ketika tekanan eksternal datang. Hal ini memicu sentimen negatif investor dan memperparah depresiasi rupiah.

Sektor Riil Jadi Kunci Ketahanan

Saat ini, sektor riil justru menjadi salah satu penopang utama ekonomi Indonesia. Aktivitas ekonomi domestik dinilai masih berjalan cukup baik, terlihat dari tren peningkatan penjualan ritel sejak akhir 2025 hingga awal 2026.

Kondisi ini berbeda dengan krisis 1998, ketika fondasi ekonomi domestik sangat lemah dan rentan terhadap guncangan.

Sektor riil yang kuat berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk dalam menciptakan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat.

Fiskal dan Keuangan Lebih Terkendali

Selain sektor riil, faktor pembeda lainnya adalah kondisi fiskal dan sistem keuangan yang jauh lebih sehat. Pemerintah saat ini dinilai mampu menjaga defisit anggaran tetap terkendali, di bawah batas aman 3 persen.

Di sektor perbankan, tingkat permodalan juga sangat kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) bahkan berada di kisaran 25,83 persen, jauh di atas standar minimum yang ditetapkan regulator.

Kepala Ekonom BCA, David Sumual menyebut kondisi ini sebagai hasil pembelajaran dari krisis sebelumnya.

“Perbankan kita sekarang jauh lebih kuat, salah satunya karena pengalaman krisis 1998,” ujarnya.

BI Punya “Amunisi” Lebih Kuat

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia kini memiliki instrumen yang jauh lebih lengkap dibandingkan era krisis 1998.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa bank sentral telah menyiapkan berbagai lapisan pertahanan (layer of defense) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Cadangan devisa yang memadai

  • Kerja sama swap bilateral dengan negara lain

  • Skema regional seperti Chiang Mai Initiative

  • Instrumen pasar untuk menjaga likuiditas

Dengan berbagai “amunisi” tersebut, BI mampu meredam gejolak tanpa harus melakukan kontrol ketat seperti di masa lalu.

Volatilitas Lebih Penting dari Level

Para ekonom menilai bahwa yang perlu diperhatikan bukan hanya level rupiah di Rp17 ribu, tetapi juga tingkat volatilitasnya.

Saat ini, volatilitas rupiah masih relatif rendah dibandingkan negara lain. Indeks volatilitas rupiah tercatat sekitar 4,75, jauh lebih stabil dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.

Hal ini penting karena stabilitas nilai tukar menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor.

“Yang dilihat pelaku usaha bukan levelnya, tapi volatilitasnya. Kalau stabil, mereka tetap percaya diri,” jelas David.

Tekanan Rupiah Masih Moderat

Pemerintah juga menilai tekanan terhadap rupiah masih dalam kategori moderat jika dibandingkan dengan negara lain.

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad menyebut depresiasi rupiah masih terkendali dan didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat.

Beberapa indikator yang mendukung antara lain:

  • PMI manufaktur masih di zona ekspansi (50,1)

  • Pertumbuhan kredit sekitar 9,37 persen (yoy)

  • Inflasi terkendali

  • Rasio utang di bawah 60 persen

“Depresiasi rupiah masih terkendali dibandingkan negara lain,” ujarnya.

Strategi Antisipasi Terus Diperkuat

Bank Indonesia juga mendorong pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi fluktuasi nilai tukar. Langkah ini penting agar kebutuhan dolar tidak langsung dibebankan ke pasar spot.

Dengan strategi tersebut, tekanan terhadap rupiah dapat didistribusikan lebih merata dan tidak memicu gejolak berlebihan.

Kombinasi antara kebijakan moneter yang adaptif, kondisi fiskal yang sehat, serta sektor riil yang kuat menjadi faktor utama yang membedakan kondisi saat ini dengan krisis 1998.

Meski rupiah berada di level Rp17 ribu, stabilitas ekonomi Indonesia dinilai masih terjaga dan jauh dari kondisi krisis seperti hampir tiga dekade lalu. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:04
08:56
05:38
05:22
01:07
01:04

Viral