- BKPM
Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Babak Baru, Pemerintah Gandeng Toyota Percepat Transisi Energi
“Kita mendorong proyek ini dalam rangka untuk mempersiapkan komitmen roadmap mandatori menjadi E10, sehingga negara kita juga siap,” ujar Wamen Todotua.
Ia menambahkan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar masih cukup tinggi, yakni sekitar 61 persen dalam satu dekade terakhir.
Di sisi lain, fluktuasi harga minyak global akibat dinamika geopolitik semakin memperkuat urgensi percepatan transisi energi.
Sejalan dengan arahan Prabowo Subianto, pemerintah menitikberatkan kebijakan pada tiga pilar utama, yaitu kemandirian energi, ketahanan pangan, dan hilirisasi sumber daya alam.
Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif, seperti cadangan nikel terbesar dunia serta posisi sebagai produsen utama kelapa sawit dan kelapa yang berpotensi menjadi bahan baku bioenergi.
Pemerintah juga mengapresiasi kontribusi Toyota dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Meski demikian, peluang kerja sama dinilai masih terbuka luas, khususnya pada pengembangan bioetanol berbasis multi bahan baku.
“Kami mengapresiasi diskusi yang konstruktif dan progresif dengan stakeholders terkait untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi di ekosistem bioenergi. Selain itu, melalui kemitraan strategis kami dengan CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) di Indonesia, kami bertujuan untuk memperluas kemampuan kami dari perakitan battery pack hingga manufaktur baterai dari sel dan modul baterai. Kolaborasi ini akan memperkuat rantai pasok lokal yang kuat, mendukung pendekatan Multi-Pathway Toyota menuju netralitas karbon,” ujar CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda.
Pertemuan ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan pemerintah untuk memperkuat kerja sama internasional, menarik investasi berkualitas, serta mempercepat transformasi ekonomi berbasis hilirisasi dan energi berkelanjutan. (rpi)