- Antara
Jika Negosiasi Damai Iran-AS Buntu hingga Harga Minyak Ikut Menguat, Apa Kabar Nilai Tukar Rupiah?
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan menemui jalan buntu. Situasi geopolitik tersebut memicu penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia yang berdampak langsung pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran menjadi salah satu sentimen utama yang menekan rupiah pada perdagangan awal pekan.
“Rupiah diperkirakan akan melemah seiring dengan menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia menyusul tanda-tanda bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu,” ujarnya di Jakarta, Senin.
Pada perdagangan Senin pagi, nilai tukar rupiah tercatat melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.386 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.382 per dolar AS.
Iran Tolak Proposal Perdamaian dari AS
Kebuntuan negosiasi terjadi setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan pemerintah AS.
Mengutip laporan media internasional, Teheran menilai usulan dari Washington mengandung tuntutan yang terlalu berlebihan dan tidak menguntungkan pihak Iran.
Pemerintah Iran juga disebut menekankan bahwa proposal perdamaian harus mencakup penghentian perang serta jaminan keamanan pelayaran di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Donald Trump menyebut respons Iran terhadap proposal AS tidak dapat diterima.
Media pemerintah Iran bahkan melaporkan bahwa Teheran meminta AS membayar kerugian perang sebagai bagian dari proses negosiasi.
Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia
Kondisi memanas antara Iran dan AS membuat perhatian pasar global kembali tertuju pada kawasan Selat Hormuz.
Wilayah tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Jika ketegangan meningkat, pasar khawatir distribusi energi global bisa terganggu dan memicu lonjakan harga minyak mentah.
Iran sendiri dikabarkan mengajukan sejumlah syarat dalam negosiasi lanjutan dengan AS, di antaranya:
-
Pencabutan sanksi ekonomi
-
Kontrol penuh Iran atas Selat Hormuz
-
Pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri
Permintaan itu disebut telah disampaikan ke Washington melalui jalur diplomatik.
Mengapa Konflik Iran-AS Bisa Pengaruhi Rupiah?
Memanasnya hubungan Iran dan AS memiliki dampak besar terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Ketika konflik geopolitik meningkat, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi melemah.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga dapat memberi tekanan tambahan terhadap ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Jika harga minyak naik terlalu tinggi, maka biaya impor energi meningkat dan dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.
Faktor yang Menekan Rupiah
Beberapa sentimen yang dinilai memengaruhi pelemahan rupiah antara lain:
-
Kebuntuan negosiasi damai Iran dan AS
-
Penguatan dolar AS di pasar global
-
Kenaikan harga minyak mentah dunia
-
Kekhawatiran pasar terhadap Selat Hormuz
-
Sentimen domestik terkait data ekonomi Indonesia
Investor Tunggu Data Kepercayaan Konsumen
Selain faktor global, pasar juga menyoroti sentimen dari dalam negeri.
Investor saat ini menunggu rilis data survei kepercayaan konsumen Indonesia yang diperkirakan mengalami penurunan.
Indeks kepercayaan konsumen diproyeksikan turun dari level 122,9 menjadi 122.
Penurunan tersebut dinilai dapat memengaruhi optimisme pasar terhadap kondisi ekonomi domestik dalam jangka pendek.
Di tengah kombinasi tekanan eksternal dan domestik, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS.
Harga Minyak dan Dolar Jadi Penentu Pasar
Pengamat menilai arah pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan akan sangat dipengaruhi perkembangan hubungan diplomatik Iran dan Amerika Serikat.
Apabila negosiasi terus mengalami kebuntuan dan ketegangan meningkat, harga minyak dunia berpotensi terus naik dan mendorong penguatan dolar AS lebih lanjut.
Situasi itu bisa memberi tekanan tambahan bagi mata uang Asia, termasuk rupiah.
Sebaliknya, apabila kedua negara kembali membuka ruang dialog dan tensi geopolitik mereda, pasar keuangan global diperkirakan akan lebih stabil sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berkurang. (nsp)