- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Purbaya Balas The Economist yang Ramal Ancaman Krisis di Era Prabowo: Eropa Malah Utangnya Dekati 100 Persen PDB
Jakarta, tvOnenews.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan, respons keras terhadap sorotan majalah internasional The Economist yang menilai arah kebijakan fiskal Presiden Prabowo Subianto berisiko mengguncang ekonomi Indonesia.
Purbaya menegaskan, kondisi fiskal nasional justru masih berada dalam jalur aman dengan defisit anggaran yang tetap terkendali di bawah batas undang-undang.
Purbaya menilai kritik yang dilontarkan media asal Inggris tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental fiskal Indonesia secara utuh. Ia menegaskan, pemerintah masih mampu menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), bahkan lebih rendah dibanding banyak negara maju.
“Kan fiskal kita bisa dikendalikan di bawah 3 persen PDB, tahun lalu bukan 2,9 lho, 2,8 dari PDB defisitnya. Jadi gak ada masalah,” ujar Purbaya di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).
Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan terhadap artikel The Economist yang menyebut program-program unggulan pemerintahan Prabowo berpotensi membebani anggaran negara secara besar-besaran.
Sebelumnya, The Economist meramalkan ekonomi RI di tangan Prabowo kini di ambang krisis. Pada 14 Mei 2026, The Economist menerbitkan artikel berjudul “Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country, Is on a Risky Path” dan “Indonesia’s President Is Jeopardising the Economy and Democracy.”
Dalam laporannya, media ini juga turut menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan 80 ribu koperasi desa yang disebut dapat menghabiskan sekitar 10 persen belanja negara.
Namun, Purbaya menilai penilaian tersebut terlalu berlebihan. Ia bahkan menyindir balik negara-negara Eropa yang justru memiliki rasio utang jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.
“Sekarang pun kita itung defisitnya berapa? jadi kalau The Economist mandang kebijakan fiskal kita berantakan, coba lihat deh negara-negara di Eropa berapa defisitnya? Utangnya berapa? Itu mendekati 100 persen semua utangnya, kita masih mendekati 40 persen, harusnya dia memuji kita,” kata dia.
Dalam artikelnya, The Economist menyebut pemerintah Indonesia menghadapi dilema berat akibat besarnya kebutuhan pembiayaan program prioritas di tengah tekanan global dan menyempitnya ruang fiskal pascakrisis energi dunia.