news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pekerja berjalan di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sumber :
  • ANTARA

IHSG Dibuka Melemah di Tengah Penantian Suku Bunga BI, Rupiah dan Gejolak Global Jadi Sorotan

IHSG dibuka melemah di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap keputusan suku bunga BI dan tekanan global dari konflik Iran-AS.
Selasa, 19 Mei 2026 - 14:35 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Selasa di tengah sikap pelaku pasar yang masih cenderung wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Pada awal perdagangan, IHSG tercatat turun tipis 0,03 poin atau 0,00 persen ke level 6.599,21. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 ikut melemah 0,60 poin atau 0,09 persen ke posisi 650,49.

Pergerakan IHSG masih dibayangi sentimen domestik maupun global, mulai dari tekanan nilai tukar Rupiah, potensi kenaikan BI-Rate, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak terhadap pasar keuangan dunia.

IHSG Diproyeksi Bergerak di Kisaran 6.400-6.700

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam rentang 6.400 hingga 6.700.

Menurutnya, pelaku pasar masih menanti keputusan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur BI yang berlangsung pada Selasa dan Rabu pekan ini.

Tekanan terhadap Rupiah menjadi salah satu faktor utama yang memicu spekulasi bahwa BI berpeluang menaikkan BI-Rate demi menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik kembali minat investor asing ke pasar domestik.

“Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400-6.700,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Tekanan Rupiah dan BI-Rate Jadi Sentimen Utama IHSG

Pergerakan IHSG juga dipengaruhi kondisi nilai tukar Rupiah yang masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya memperkirakan Rupiah mulai menguat pada Juli 2026. Secara historis, Rupiah memang cenderung mengalami pelemahan pada periode April hingga Juni karena meningkatnya permintaan dolar AS.

Kondisi tersebut membuat pasar memprediksi adanya peluang kenaikan BI-Rate untuk meredam depresiasi Rupiah lebih lanjut.

Jika suku bunga acuan dinaikkan, langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan daya tarik instrumen investasi domestik, terutama bagi investor asing. Yield investasi di dalam negeri juga diperkirakan menjadi lebih kompetitif.

Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan maupun masyarakat. Dampaknya, beban bunga perusahaan dapat meningkat dan daya beli masyarakat berisiko melemah.

Berita Terkait

1
2 3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:03
04:27
01:43
04:26
03:22
05:14

Viral