- Antara
Ternyata Oh Ternyata, Rupiah Sempat Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini, Tapi Berbalik Turun Lagi
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan pada perdagangan Kamis (28/5/2026), mata uang Paman Sam sempat menyentuh level Rp17.900-an sebelum akhirnya kembali turun.
Berdasarkan data Investing, dolar AS sempat berada di posisi Rp17.949. Sepanjang perdagangan hari ini, pergerakan dolar AS berada dalam rentang Rp17.772 hingga Rp17.995.
Sementara itu, data Google Finance mencatat dolar AS juga sempat menyentuh level Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC.
Meski sempat melonjak mendekati Rp18.000 per dolar AS, posisi mata uang tersebut kemudian berbalik turun ke level Rp17.850. Namun demikian, dolar AS masih tercatat menguat sekitar 0,37 persen terhadap rupiah.
Lonjakan tersebut membuat pelemahan rupiah kembali menjadi perhatian pasar dan publik karena terjadi di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Rupiah Tertekan Sentimen Global dan Domestik
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor cenderung memindahkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS.
“Tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Ia menjelaskan tekanan global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Konflik AS-Iran Jadi Pemicu Tekanan Pasar
Dari sisi eksternal, pasar disebut tengah mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi terganggunya distribusi energi global, terutama di jalur perdagangan minyak Selat Hormuz.
Kondisi geopolitik yang memanas biasanya membuat investor global memilih aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Selain itu, pasar juga memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ekspektasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market karena arus modal asing cenderung keluar menuju instrumen dolar AS.
“Kondisi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Ibrahim.
Harga Energi dan Inflasi Global Jadi Sorotan
Ibrahim menilai kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dunia.
Situasi itu membuat ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.
Akibatnya, dolar AS terus mendapat dukungan dari pasar global, sementara mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Faktor yang Menekan Rupiah
Beberapa faktor yang disebut memicu pelemahan rupiah antara lain:
-
Konflik geopolitik AS dan Iran
-
Kekhawatiran gangguan distribusi minyak dunia
-
Ekspektasi suku bunga tinggi The Fed
-
Arus modal keluar dari negara berkembang
-
Kebutuhan impor minyak dalam negeri
-
Pembayaran dividen dan utang jatuh tempo
Faktor Domestik Turut Tekan Rupiah
Selain sentimen global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri.
Ibrahim menyebut meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Di samping itu, pembayaran dividen perusahaan dan kewajiban utang jatuh tempo juga meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Pelaku pasar disebut masih terus mencermati kondisi fiskal nasional dan efektivitas sejumlah program pemerintah yang dinilai dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar dalam beberapa waktu terakhir.
BI Dinilai Sudah Maksimal Intervensi
Bank Indonesia (BI) disebut terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun menurut Ibrahim, tekanan pasar yang terjadi saat ini membuat ruang stabilisasi rupiah menjadi semakin terbatas.
“BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar memang masih cukup besar,” ujarnya.
Meski dolar AS sempat turun dari level Rp17.900-an, pergerakan rupiah masih menjadi perhatian pelaku pasar mengingat tekanan global dan domestik belum sepenuhnya mereda. (nsp)