- ANTARA
Kemenpar Malah Sebut Pelemahan Rupiah Jadi Peluang, Biar Orang Asing Ramai-Ramai Datang: Ini Daya Tarik
Selain itu, wisatawan asal Eropa yang ingin berkunjung ke Indonesia juga harus melewati kawasan Timur Tengah yang saat ini masih dibayangi ketegangan geopolitik.
Menghadapi kondisi tersebut, Kemenpar mulai mengalihkan fokus pasar dari wisatawan jarak jauh seperti Eropa dan Amerika ke kawasan yang lebih dekat, yakni Asia Tenggara, Asia, dan Australia.
“Cari cara mitigasinya, kita ganti, belok, dulunya kita mencari jauh-jauh daerah Eropa dan Amerika, sekarang realistis Asia, ASEAN, Australia, cuma memang betul pasar Eropa-Amerika lama tinggalnya panjang 3 minggu sampai sebulan sedangkan dari Asia sebentar-sebentar, ini harus dikombinasi,” tuturnya.
Kemenpar juga menyoroti tantangan lain terkait produk pariwisata, khususnya tingginya ketergantungan pada barang impor yang digunakan pelaku usaha hotel dan restoran.
Di tengah pelemahan rupiah, biaya impor menjadi lebih mahal. Namun, kebutuhan wisatawan tetap harus dipenuhi sehingga pelaku usaha diminta mampu menyeimbangkan penggunaan produk impor dengan produk lokal.
“Kalau impor misalnya keju mahal kan dari sana, jadi bisa keju lokal, wisatawan mancanegara itu menghargai yang lokal sebetulnya tapi sebagai produsen baik restoran atau hotel, pada saat yang sama kan banyak juga wisman yang memang mau cari yang barang-barang yang dia biasa pakai begitu nah ini tinggal bagaimana menyeimbangkannya,” ujarnya. (ant/rpi)