- ANTARA
Rupiah Tertekan, Pengamat Sebut Ketergantungan Impor Minyak Jadi Bom Waktu Ekonomi RI
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,33 persen ke level Rp17.864 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.805 per dolar AS, pada Selasa (2/6/2026).
Pelemahan rupiah kali ini dinilai bukan hanya dipicu faktor eksternal berupa memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga diperparah oleh tingginya kebutuhan dolar untuk membiayai impor minyak nasional yang terus membengkak.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia secara langsung memberikan tekanan terhadap kebutuhan devisa Indonesia.
“Nah dari sisi domestik sendiri kita melihat bahwa penguatan harga minyak mentah dunia ini berdampak terhadap harga-harga di dalam negeri ya kita tahu bahwa impor minyak yang begitu besar ya sampai 1,5 juta barel per hari ya ini pun berdampak terhadap apa permintaan dolar yang cukup tinggi,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, tingginya volume impor energi membuat kebutuhan dolar AS terus meningkat, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
“Nah permintaan dolar yang cukup tinggi kemudian minyak yang impor sebesar 1,5 juta barel, 85 persen itu adalah untuk BBM bersubsidi, ini pun juga membuat apa, membuat kebutuhan dolar yang cukup tinggi,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, harapan pasar terhadap implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang sempat mendorong penguatan rupiah dinilai belum mampu memberikan kepastian jangka pendek.
“Nah walaupun kemarin Rupiah sempat mengalami penguatan ya akibat DHE yang akan diterapkan di dalam negeri, ini pun juga masih belum ada keputusan pasti ya karena apa,” katanya.
Ibrahim menilai implementasi kebijakan tersebut masih menghadapi tantangan karena berkaitan dengan aktivitas bisnis para eksportir Indonesia di pasar internasional.
“Kita harus melihat bahwa para eksportir ya Indonesia pun juga pasti ada kerja sama dengan luar negeri ya tentang masalah penempatan dana DHE tersebut. Nah sehingga membuat hari ini rupiah kembali melemah yang cukup tajam,” jelasnya.
Selain faktor domestik, tekanan terbesar terhadap rupiah masih datang dari luar negeri. Pengamat mata uang Ariston Tjendra menilai, konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sentimen dominan yang mendorong penguatan dolar AS.