- ANTARA
Pengamat Sebut Opsi Utang IMF-Bank Dunia Jadi Jalan Paling Realistis Agar Rupiah Kembali Bangkit
Jakarta, tvOnenews.com - Pelemahan rupiah yang kembali menembus level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) memunculkan pertanyaan besar mengenai peluang pemulihan mata uang Indonesia dalam waktu dekat.
Di tengah tekanan geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi internasional, sejumlah pengamat menilai ruang penguatan rupiah masih terbuka, namun jalannya tidak mudah.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memperkuat cadangan devisa dan menjaga pasokan dolar di dalam negeri. Salah satu opsi yang dinilai tersedia adalah membuka akses pembiayaan dari lembaga internasional.
“Kemudian apakah Rupiah ini akan kembali menguat? Ya Rupiah akan menguat apabila Rupiah siap mencari utang baru di luar negeri,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia telah memberikan sinyal kesiapan untuk membantu Indonesia melalui fasilitas pinjaman apabila dibutuhkan.
“Kita melihat bahwa IMF, Bank Dunia sudah memberikan angin segar ya untuk Indonesia, untuk siap membantu pemerintah untuk memberikan pinjaman,” ujarnya.
Namun, keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Ibrahim mengingatkan bahwa pinjaman dari lembaga internasional biasanya disertai berbagai konsekuensi kebijakan yang harus dipenuhi.
“Nah tergantung dari pemerintah apakah pemerintah siap ya untuk menerima pinjaman dari IMF maupun Bank Dunia,” katanya.
Ia menilai, jika pemerintah memilih menerima pinjaman tersebut, maka akan ada sejumlah komitmen yang harus disepakati, termasuk menyangkut reformasi kebijakan fiskal.
“Kalau seandainya menerima berarti banyak sekali MoU-MoU nanti yang harus ditandatangani oleh pemerintah terutama adalah tentang masalah subsidi. Subsidi harus dibuang ya, subsidi harus dihapuskan. Itulah keinginan dari Bank Dunia maupun IMF. Itu salah satu satunya untuk menguatkan mata uang Rupiah,” jelas Ibrahim.
Selain faktor pembiayaan, penguatan rupiah juga sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya situasi di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
“Kemudian yang kedua adalah tentang Selat Hormuz. Selat Hormuz kan seandainya dibuka kembali, perang selesai, ya kemungkinan Rupiah akan kembali menguat,” ujarnya.