news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi - Bursa Efek Indonesia (BEI)..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Rilo Pambudi

IHSG Ambles Lagi 4,52 Persen, Bursa RI Berdarah Dihantam Aksi Jual Besar-Besaran, Ini yang Bikin Investor Panik

IHSG ambles lagi setelah koreksi yang terjadi pada hampir semua sektor. Pada penutupan Senin (8/6/2026), IHSG terjun bebas 252,63 poin atau 4,52 persen ke posisi 5.342.
Senin, 8 Juni 2026 - 17:38 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi-lagi mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (8/6/2026). Gelombang aksi jual besar-besaran yang terjadi di hampir seluruh sektor membuat indeks ditutup merosot tajam pada akhir sesi perdagangan.

Pada penutupan perdagangan sore ini, IHSG terjun bebas 252,63 poin atau 4,52 persen ke posisi 5.342. Pelemahan ini menyeret sebagian besar saham ke zona negatif dan membawa IHSG ke level terendah dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 701 saham ditutup melemah, 78 saham menguat, dan 180 saham tidak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi mencapai Rp21,3 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 29,8 miliar saham.

Tekanan juga terjadi pada sejumlah indeks unggulan. Indeks LQ45 terkoreksi 5,50 persen menjadi 527, Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,71 persen ke level 319, IDX30 melemah 5,61 persen ke posisi 298, sementara MNC36 turun 5,84 persen menjadi 231.

Seluruh indeks sektoral berakhir di wilayah negatif. Koreksi terjadi pada sektor keuangan, teknologi, properti, kesehatan, energi, infrastruktur, bahan baku, transportasi, industri, serta barang konsumen primer dan non-primer. Meski tekanan pasar berlangsung luas, beberapa saham masih mampu mencatatkan kenaikan harga.

Sektor industri menjadi penyumbang pelemahan terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan penurunan mencapai 6,39 persen.

Di bawahnya, sektor infrastruktur terkoreksi 6,29 persen, sektor transportasi turun 5,58 persen, dan sektor teknologi melemah 4,68 persen.

Tekanan juga melanda sektor kesehatan yang turun 4,44 persen, sektor barang konsumen non-primer 4,36 persen, sektor barang konsumen primer 4,25 persen, sektor energi 4,03 persen, sektor bahan baku 4 persen, sektor properti 2,92 persen, serta sektor keuangan 2,82 persen.

"Tekanan jual berlanjut akibat faktor negatif dari global dan domestik," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta.

Ratna menjelaskan, selain dipengaruhi sentimen domestik yang berkaitan dengan menurunnya kepercayaan investor, pasar juga dibayangi faktor eksternal.

Ketegangan antara Iran dan Israel yang kembali memanas dinilai mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh.

Kondisi geopolitik tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 4 persen. Kenaikan harga energi itu meningkatkan risiko inflasi yang berkepanjangan sekaligus berpotensi memperlebar defisit APBN 2026.

Di sisi lain, eskalasi konflik juga memunculkan ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau hawkish hingga akhir tahun.

Sejalan dengan kondisi tersebut, mayoritas bursa saham Asia turut bergerak melemah mengikuti koreksi yang terjadi di Wall Street.

Tekanan berasal dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta pelemahan saham-saham sektor teknologi global.

"Potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya diperkirakan IHSG berpotensi akan menguji level 5.100," ujar Ratna.

Kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar, membuat pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik serta arah kebijakan moneter global sebagai penentu pergerakan IHSG dalam jangka pendek. (ant/rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:25
00:57
09:29
05:05
02:16
00:51

Viral