- Ilustrasi AI/ChatGPT
Rupiah Ditutup Menguat Rp17.860, Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi RI Jadi 5 Persen
Jakarta, tvOnenews.com — Nilai tukar rupiah mencatat penguatan tajam pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026) sore, di tengah sentimen positif terhadap prospek ekonomi Indonesia setelah Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini menjadi 5 persen.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup menguat 128 poin ke level Rp17.860 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.988 per dolar AS.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat tajam 128 point sebelumnya sempat menguat 135 point dilevel Rp17.860 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.988,” ujar Ibrahim, saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).
Penguatan rupiah terjadi setelah Bank Dunia meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dari sebelumnya 4,7 persen menjadi 5 persen. Revisi tersebut didorong oleh kinerja ekonomi nasional pada kuartal I-2026 yang melampaui ekspektasi.
Momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,6 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini, menjadi laju pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak kuartal II-2021.
Menurut Ibrahim, capaian tersebut ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga yang didorong momentum Ramadan dan Idulfitri, percepatan pembayaran THR aparatur sipil negara, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain konsumsi masyarakat, investasi juga menunjukkan performa solid. Pembentukan modal tetap bruto pada kuartal I-2026 tumbuh 6 persen, sementara konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat hingga 8,7 persen sepanjang tahun ini.
Meski demikian, Bank Dunia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap konsumsi sebagai motor utama pertumbuhan tetap menyimpan risiko. Ruang fiskal yang semakin terbatas, potensi kenaikan beban subsidi akibat konflik Timur Tengah, serta gejolak sentimen pasar keuangan global masih menjadi tantangan yang harus diwaspadai.
Di sisi lain, tekanan eksternal juga belum sepenuhnya mereda. Ibrahim menyoroti data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi produsen kembali meningkat pada Mei 2026 akibat kenaikan biaya energi.
“Data tersebut mendorong para pedagang untuk meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve dapat melanjutkan pengetatan kebijakan akhir tahun ini, dengan pasar memperkirakan sekitar 60 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Desember,” katanya.
Kondisi tersebut berpotensi kembali menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Karena itu, meskipun menguat signifikan pada akhir pekan ini, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi pada perdagangan berikutnya.