- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Audiensi dengan Menko Perekonomian dan Kadin, Jerman Lirik SDM Indonesia untuk Isi Ribuan Kebutuhan Pekerja
Jakarta, tvOnenews.com – Kunjungan delegasi bisnis Jerman ke Indonesia tidak hanya memburu peluang investasi di sektor mineral kritis dan manufaktur maju, Jerman juga membuka peluang besar bagi tenaga kerja Indonesia untuk mengisi kebutuhan sumber daya manusia di negara tersebut.
Isu ketenagakerjaan bahkan menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan antara delegasi bisnis Jerman, pemerintah Indonesia, dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang digelar usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, delegasi bisnis Jerman menunjukkan ketertarikan besar terhadap potensi kerja sama ekonomi setelah rampungnya Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
“Pertemuan ini tindak lanjut dari pertemuan tadi di istana antara Presiden Prabowo dan Presiden Jerman. Dan Jerman membawa business delegation. Dan business delegation-nya tadi mengadakan pertemuan, terutama mereka menanyakan tentu pasca-EU CEPA ini nanti apa yang menjadi peluang untuk Indonesia,” ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).
Selain membahas perdagangan dan investasi, delegasi Jerman juga menyoroti kesiapan sumber daya manusia Indonesia. Menurut Airlangga, Jerman menghadapi tantangan serius akibat menyusutnya jumlah penduduk usia muda yang berpotensi memengaruhi kebutuhan tenaga kerja di masa depan.
“Dan yang kedua, mereka juga mengapresiasi terkait mungkin kesiapan human resource, mereka sangat terbuka. Dan Jerman kan salah satu negara yang jumlah generasi mudanya berkurang,” kata Airlangga.
Melihat peluang tersebut, pemerintah Indonesia langsung menawarkan pembahasan lebih lanjut melalui forum Joint Commission on Industry and Economy yang akan digelar pada September mendatang. Forum itu akan menjadi wadah penyusunan kerja sama penempatan tenaga kerja dan program pelatihan antara kedua negara.
“Jadi mereka ingin memanfaatkan itu dan tadi saya tawarkan dalam Joint Commission on Industry and Economy di bulan September mendatang kita bisa persiapkan rencana dua pihak untuk penempatan tenaga kerja ataupun pelatihan, baik itu orang Indonesia maupun Jerman,” ujarnya.
Airlangga mengatakan pemerintah juga telah meminta Kadin Indonesia untuk mengoordinasikan langkah-langkah persiapan kerja sama tersebut dengan dunia usaha.
“Dan tadi saya minta langsung kepada Ketua Umum Kadin untuk mengorganisasi hal tersebut,” tambahnya.
Di bidang investasi, minat Jerman terhadap Indonesia juga terlihat kuat. Delegasi bisnis Negeri Panzer tersebut menanyakan sektor-sektor potensial yang dapat menjadi fokus kerja sama baru antara kedua negara.
“Yang ketiga, tentu kaitannya dengan beberapa investment mereka, mereka menanyakan sektor apa lagi yang bisa mendorong kerja sama Indonesia dan Jerman,” kata Airlangga.
Menurutnya, sektor mineral kritis menjadi salah satu perhatian utama investor Jerman, terutama rare earth dan nikel yang menjadi komponen penting dalam pengembangan kendaraan listrik, baterai, dan teknologi energi bersih.
“Terutama mereka tertarik terkait dengan rare earth, juga termasuk mengenai nikel,” lanjutnya.
Namun pemerintah mengingatkan agar investasi diarahkan pada sektor yang tidak menambah persoalan kelebihan kapasitas produksi global. Airlangga mencontohkan industri baja Eropa yang saat ini sedang melakukan pengurangan kapasitas secara besar-besaran.
“Tapi juga saya sampaikan bahwa Eropa sekarang saat-saat sekarang merasa punya excess capacity daripada baja, di mana mereka mau memotong produksi baja di Eropa juga dipotong dari 80 juta ke 40 juta. Nah, itu juga yang saya sampaikan sektor-sektor yang kita lakukan harapannya kita tidak menambah excess-nya, tapi sektor lain yang kita masih sangat terbuka,” jelasnya.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai antusiasme dunia usaha Jerman terhadap Indonesia sangat tinggi, terutama setelah tercapainya kesepakatan IEU-CEPA yang membuka akses pasar lebih luas antara Indonesia dan Uni Eropa.
“Terlihat banyak sekali animo keinginan untuk satu, berdagang memanfaatkan daripada EU-CEPA, perjanjian dengan Uni Eropa ini. Dan memang terlihat Jerman ini sebagai negara yang terbesar di Uni Eropa sangat antusias dan tentunya kita juga sangat antusias,” ujar Anindya.
Selain perdagangan, investor Jerman juga ingin meningkatkan investasi langsung pada sektor-sektor strategis yang menjadi prioritas industrialisasi Indonesia.
“Dan yang kedua, untuk industrialisasi tadi disampaikan dari mineral kritis, energi transisi sampai kepada advanced manufacturing, mereka juga ingin menambahkan foreign direct investment-nya,” katanya.
Anindya mengungkapkan bahwa Jerman bahkan mendorong adanya program pertukaran pekerja antara kedua negara. Skema tersebut dinilai tidak hanya memperkuat hubungan antarmasyarakat, tetapi juga mempercepat transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
“Dan tadi kami berterima kasih Pak Menko memperjuangkan juga bagaimana tenaga kerja migran kita bisa lebih banyak ke sana. Bahkan dari pihak mereka, dari Jerman juga ingin ada pertukaran pekerja supaya bisa terjadi bukan hanya relasi yang baik antara people to people. Tapi juga saling belajar supaya ilmunya semakin tinggi di era industrialisasi dan juga upaya-upaya pemerintah ini,” kata Anindya. (agr/rpi)