- Istimewa
Jejak Eropa di Jakarta: Simak 5 Bangunan Kolonial yang Masih Ada Hingga Saat Ini
Bangunannya bergaya campuran Portugis dan Yunani klasik dengan fitur unik seperti mimbar kayu megah, orgel kuno dari tahun 1782, dan lonceng besi tuang bertahun 1675.
Pengunjung disarankan datang di luar jam ibadah, berpakaian sopan dan tertutup, serta menjaga ketenangan di dalam area gereja.
3. Museum Bahari
Museum Bahari terletak di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa, menempati bekas gudang rempah VOC yang dibangun antara tahun 1652 hingga 1771.
Setelah kemerdekaan, bangunan sempat digunakan oleh PLN dan PTT sebelum akhirnya diresmikan sebagai museum pada tahun 1977.
Museum ini kini menampilkan koleksi sejarah maritim Indonesia, termasuk berbagai model perahu tradisional Nusantara dan alat navigasi.
Museum Bahari buka setiap hari Selasa hingga Minggu pukul 08.00 sampai 15.00 WIB dan tutup pada hari Senin serta hari libur nasional, dengan tiket masuk yang sangat terjangkau.
4. Museum Taman Prasasti
Museum Taman Prasasti di Jalan Tanah Abang I merupakan bekas kompleks pemakaman Eropa modern yang dibuka pada tahun 1795.
Pemakaman ini dianggap sebagai salah satu yang tertua di dunia dan ditutup untuk penguburan baru pada tahun 1975, lalu diresmikan sebagai museum terbuka dua tahun kemudian.
Area museum didominasi oleh arsitektur bergaya Neo-Klasik dengan pintu gerbang bertiang besar dan berbagai patung marmer, termasuk ikon patung "The Crying Lady".
Museum buka dari hari Selasa hingga Minggu pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, dan pengunjung diimbau untuk berpakaian sopan serta bersikap hormat mengingat latar belakang tempatnya.
5. Tugu Kunstkring Paleis
Tugu Kunstkring Paleis di Jalan Teuku Umar, Menteng, awalnya dibangun sebagai balai seni (Kunstkring) dan dibuka secara resmi pada tahun 1914.
Setelah beralih fungsi beberapa kali, bangunan cagar budaya ini kini dikelola sebagai restoran fine dining, kafe, dan galeri seni oleh Tugu Hotels & Restaurants Group.
Arsitekturnya bergaya Nieuwe Kunst atau Art Nouveau Belanda dengan perpaduan ornamen Jawa, Eropa, dan Oriental di interiornya.
Meski tidak ada tiket masuk, akses biasanya diperuntukkan bagi tamu yang bersantap, sehingga reservasi sangat disarankan, terutama untuk menikmati pengalaman kuliner lengkap.
Jakarta menawarkan jejak sejarah kolonial yang dapat dilacak melalui beberapa bangunan bersejarah yang masih berfungsi.