- Wildan-tvOnenews.com
Rupiah Melemah ke Rp17.931 per Dolar AS saat Pasar Antisipasi Kenaikan BI Rate di Pengumuman RDG BI
Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah melemah ke Rp17.931 per dolar Amerika Serikat (AS) saat pasar mengantisipasi kenaikan BI-Rate di pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) hari ini, Rabu (22/7/2026).
Meski begitu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif.
Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.909 per dolar AS pada Selasa, 21 Juli 2026.
Posisi rupiah menguat 67 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.976 per dolar AS pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026.
Perdagangan di pasar spot pada Rabu, 22 Juli 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp17.931 per dolar AS.
Posisi rupiah melemah 43 poin atau 0,24 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.888 per dolar AS.
Dalam riset hariannya, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen pergerakan rupiah antara lain berasal dari antisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 bps dalam RDG BI.
Dia menjelaskan kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah bunga acuan berada pada level 4,75 persen sejak September 2025.
Akan tetapi, rupiah masih terus melemah hingga sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.
Lewat RDG BI Mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps.
Sejak keputusan tersebut, kata dia, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.
Pada RDG Bulanan 18 Juni 2026, BI juga melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dengan kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. BI dijadwalkan kembali menggelar RDG Bulanan pada 21-22 Juli 2026
Lukman menyebut penguatan rupiah pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026 dipengaruhi meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Rupiah ditutup menguat cukup besar terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah melaporkan defisit APBN sebesar 0,76 persen dari PDB hingga Juni 2026 serta mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB. (Mohammad Yudha Prasetya/VIVA/nsi)