- Antara Foto
Di Tengah Geopolitik Panas, Pengamat Sebut Emas Diprediksi Tetap Jadi Primadona Investor
Jakarta, tvOnenews.com – Emas diperkirakan masih menjadi aset paling diburu investor global pada pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut dinilai mendorong bank-bank sentral dunia kembali memperbesar kepemilikan logam mulia sebagai instrumen lindung nilai (safe haven).
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas dunia (XAU) diperkirakan bergerak dalam rentang yang relatif tinggi sepanjang pekan depan. Menurutnya, emas masih memiliki ruang penguatan di tengah meningkatnya risiko global.
“Kalau untuk XAU sendiri, saya melihat bahwa XAU kemungkinan besar akan diperdagangkan dalam sepekan itu di level US$3.836 per troy ounce, kemudian resistennya di US$4.290 per troy ounce. Kemudian secara jangka pendek kemungkinan besar support-nya itu di US$3.990 per troy ounce, kemudian resistennya di US$4.132 per troy ounce,” kata Ibrahim kepada tvOnenews.com, Minggu (2/8/2026).
Untuk harga logam mulia di dalam negeri, Ibrahim memperkirakan pergerakannya juga tetap berada pada level tinggi.
“Kemudian untuk logam mulia sendiri, kemungkinan besar dalam minggu depan, ya logam mulia itu akan ditransaksikan di support Rp2.410.000 per gram, kemudian resistennya di Rp2.720.000 per gram. Nah, secara jangka pendek, kemungkinan support-nya di Rp2.580.000 per gram, kemudian resistennya di Rp2.623.000 per gram,” ujarnya.
Ibrahim menjelaskan fluktuasi harga emas dipengaruhi sejumlah faktor utama, mulai dari perkembangan geopolitik, dinamika politik di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral AS, hingga keseimbangan pasokan dan permintaan global.
“Apa yang membuat emas dan logam mulia berfluktuasi? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah masalah geopolitik, perpolitikan di Amerika, kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika, kemudian yang terakhir adalah supply dan demand,” katanya.
Menurut Ibrahim, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor yang paling diperhatikan pelaku pasar.
Laporan mengenai potensi serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi Iran dinilai dapat memperburuk ketidakpastian global, terlebih setelah Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan apabila aksi militer tersebut benar-benar terjadi.
Di saat yang sama, ketegangan juga meningkat akibat blokade Laut Merah oleh Houthi Yaman serta terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Di kawasan Eropa Timur, konflik Rusia-Ukraina juga terus memanas setelah terjadi saling serang yang memperburuk situasi keamanan regional.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan Federal Reserve. Meski inflasi AS sempat melandai pada Juni, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak berpotensi kembali mendorong inflasi sehingga membuka peluang bank sentral AS mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Di tengah berbagai ketidakpastian tersebut, permintaan emas global tetap menunjukkan ketahanan.
Ibrahim mengutip data World Gold Council (WGC) yang mencatat permintaan emas dunia pada kuartal II atau semester I 2026 relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kemudian dari segi supply dan demand. Kita melihat bahwa WGC, ya ini mencatat bahwa permintaan emas secara global di kuartal kedua, ya atau di semester pertama relatif tidak berubah, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 1.269 ton. Kalau secara kumulatif bahwa permintaan emas sepanjang semester pertama ini meningkat 2 persen secara tahunan sekitar 2.522 ton dengan nilai transaksi mencapai di US$380 miliar,” jelasnya.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan bank-bank sentral global mulai mengalihkan sebagian portofolio cadangan devisanya dari dolar AS ke emas sebagai langkah diversifikasi investasi.
“Artinya apa? Bahwa dalam kondisi harga minyak mentah, harga minyak mentah naik, kemudian harga emas dunia mengalami penurunan. Ini dimanfaatkan oleh Bank Sentral Global untuk melakukan diversifikasi investasinya, ya dari menggunakan dolar dengan menggunakan apa? Logam mulia. Dan kita lihat bahwa di semester kedua kemungkinan besar tensi geopolitik semakin tinggi, ya Bank Sentral Global pun juga akan kembali melakukan pembelian terhadap logam mulia,” pungkasnya. (agr/nsi)