news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Infografis Harga Properti Residensial Triwulan II 2026..
Sumber :
  • Dok. Bank Indonesia

BI Ungkap Harga Properti di Indonesia Naik di Triwulan II 2026, Pekanbaru Jadi Wilayah Paling Mencolok

Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II 2026 tercatat 110,89 atau tumbuh 0,69 persen secara tahunan (yoy).
Minggu, 9 Agustus 2026 - 18:10 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI), Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II 2026 tercatat 110,89 atau tumbuh 0,69 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang sebesar 0,62 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kenaikan IHPR terutama didorong oleh peningkatan harga rumah tipe besar.

“Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial di pasar primer meningkat terbatas,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis terkait Harga Properti Residensial Naik Terbatas pada Triwulan II 2026, Minggu (9/8/2026).

Harga rumah tipe besar tercatat pada indeks 108,41 atau tumbuh 0,68 persen (yoy), meningkat dari pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang sebesar 0,50 persen.

Sebaliknya, kenaikan harga rumah tipe kecil justru melambat. Indeks harga rumah tipe kecil tercatat 113,89 dengan pertumbuhan 0,49 persen (yoy), turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 0,61 persen.

Sementara itu, indeks harga rumah tipe menengah tercatat 114,01 dengan pertumbuhan yang relatif stabil dibandingkan triwulan I 2026.

Pergerakan harga properti juga menunjukkan perbedaan cukup tajam antarwilayah. Dari 18 kota yang disurvei BI, sebanyak 10 kota mengalami peningkatan pertumbuhan IHPR secara tahunan, sementara tujuh kota mengalami penurunan dan satu kota mencatatkan pertumbuhan relatif stabil.

Pekanbaru menjadi salah satu wilayah dengan pergerakan paling mencolok. Pertumbuhan harga rumah di kota tersebut melonjak menjadi 3,23 persen (yoy) pada triwulan II 2026, setelah sebelumnya mengalami kontraksi 0,03 persen.

Banjarmasin juga mencatat penguatan signifikan. Pertumbuhan harga rumah di kota tersebut meningkat menjadi 1,29 persen (yoy), dari sebelumnya 0,52 persen.

Namun, tidak semua daerah mengalami penguatan. Pertumbuhan harga rumah di Padang dan Balikpapan justru melambat masing-masing menjadi 0,63 persen dan 1,19 persen (yoy). Pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan harga di kedua wilayah tersebut masing-masing mencapai 1,21 persen dan 1,44 persen.

Jika dilihat secara triwulanan, penguatan harga properti bahkan lebih terlihat. IHPR pasar primer pada triwulan II 2026 tumbuh 0,26 persen (qtq), naik signifikan dibandingkan triwulan I 2026 yang hanya tumbuh 0,04 persen.

Kenaikan tersebut terutama ditopang harga rumah tipe menengah yang tumbuh 0,40 persen (qtq), berbalik dari kontraksi 0,01 persen pada triwulan sebelumnya.

Harga rumah tipe besar juga tumbuh 0,26 persen (qtq), meningkat dibandingkan pertumbuhan 0,06 persen pada triwulan I 2026.

Sementara itu, rumah tipe kecil menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami kontraksi. Harganya turun 0,02 persen (qtq), setelah pada triwulan sebelumnya masih tumbuh 0,06 persen.

Secara spasial, Pekanbaru kembali menjadi wilayah dengan lonjakan paling tinggi. Harga rumah di kota tersebut tumbuh 3,26 persen (qtq), berbalik dari posisi 0,00 persen pada triwulan I 2026.

Jabodebek-Banten juga mencatat penguatan, dengan pertumbuhan harga rumah sebesar 0,23 persen (qtq), meningkat dari 0,04 persen pada triwulan sebelumnya.

Sebaliknya, Padang dan Balikpapan mengalami tekanan harga. Keduanya mencatat kontraksi masing-masing 0,26 persen dan 0,08 persen (qtq), setelah pada triwulan I 2026 sama-sama masih tumbuh 1,08 persen. (agr/rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:16
12:21
02:04
03:45
02:28
03:25

Viral