news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Sumber :
  • Abdul Gani Siregar/tvOnenews.com

Airlangga Optimistis ETF Emas RI Bisa Salip India dan Singapura: Ada 153 Ton Emas Senilai US$20 Miliar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis Indonesia dapat mengejar dan melampaui sejumlah negara di kawasan melalui pengembangan ETF emas.
Senin, 10 Agustus 2026 - 13:04 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis Indonesia dapat mengejar dan melampaui sejumlah negara di kawasan melalui pengembangan Exchange Traded Fund (ETF) emas.

Hal tersebut disampaikan Airlangga saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia dan Peluncuran Produk ETF Emas di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Menurut Airlangga, peluncuran ETF emas menjadi momentum penting setelah 81 tahun Indonesia merdeka. Produk investasi tersebut diharapkan tidak hanya memperluas pilihan investasi masyarakat, tetapi juga memperdalam sektor keuangan Indonesia.

“Jadi sekarang kita sudah merdeka, sudah 81 tahun, maka tentu harapannya dengan produk baru ETF, kita akan terus memperkuat Indonesia punya kedalaman sektor keuangan,” kata Airlangga.

Airlangga kemudian membandingkan potensi industri ETF Indonesia dengan sejumlah negara besar.

Ia menyebut nilai ETF global mencapai sekitar US$4.047 miliar, sementara Amerika Serikat mencapai US$200 miliar, China US$45 miliar, dan India US$17,5 miliar.

Potensi Indonesia, menurut Airlangga, tidak hanya berasal dari besarnya pasar domestik, tetapi juga dari kepemilikan emas yang dapat menjadi basis pengembangan instrumen investasi berbasis emas.

Ia menyinggung jumlah emas yang berada di Pegadaian mencapai 153 ton. Jika dikonversi, jumlah tersebut disebut memiliki nilai sekitar US$20 miliar.

“Dirut Pegadaian, jumlah emas di Pegadaian berapa? 153 ton? Bener kan, 153 ton? 153 ton adalah US$20 miliar. Jadi India sebetulnya bisa kita balap dengan waktu cepat nih, Pak. Jadi kita akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura, dan dengan demikian tentu kita lebih dalam lagi,” tutur Airlangga.

Optimisme tersebut menunjukkan pemerintah melihat emas bukan semata sebagai komoditas yang disimpan, tetapi sebagai aset yang dapat diintegrasikan lebih jauh ke dalam sistem keuangan nasional.

Salah satu terobosan yang disoroti Airlangga adalah terbukanya ruang bagi industri asuransi untuk berinvestasi pada emas melalui instrumen ETF.

“Dan saya senang karena dengan ETF, maka asuransi bisa invest emas. Sebelumnya kan asuransi tidak bisa invest di bullion. Jadi ini yang salah satu yang kita akan terus dorong,” katanya.

Airlangga menilai keberadaan ETF emas juga dapat menciptakan ekosistem investasi yang lebih terintegrasi. Instrumen tersebut diharapkan menghubungkan berbagai pelaku dalam rantai pasar emas dan pasar modal.

“Nah, kemudian saya harapkan memang produk ini menghubungkan antara manajer investasi, custodian bank, Bank Bullion, dealer, dan Bursa Efek. Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas,” ujar Airlangga.

Dengan keterhubungan tersebut, emas diharapkan tidak hanya menjadi aset yang disimpan secara fisik, tetapi dapat diperdagangkan melalui instrumen pasar modal dengan mekanisme yang lebih terstruktur.

Airlangga juga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membuka ruang bagi Electronic Gold Receipt (EGR) untuk masuk dalam ekosistem ETF emas.

“Dan saya mengapresiasi langkah OJK bahwa Electronic Gold Receipt atau EGR merupakan efek yang dapat dicatat sebagai efek dalam portofolio ETF emas,” ucapnya. (agr/nsi)

 
 
 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:13
01:26
01:32
03:29
12:26
07:42

Viral