- ANTARA
IHSG Masih Hijau di Awal Perdagangan, Investor Cermati Inflasi AS dan Sentimen Global
Jakarta, tvOnenews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berada di zona hijau pada awal perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. IHSG dibuka menguat 18,44 poin atau 0,29 persen ke level 6.383,81 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 6.365,37.
Penguatan IHSG tersebut terjadi di tengah pelaku pasar yang masih mencermati berbagai sentimen dari dalam maupun luar negeri. Investor turut menunggu sejumlah data ekonomi penting, terutama rilis Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) periode Juli 2026 yang akan menjadi perhatian pasar.
Selain IHSG, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga mengawali perdagangan di zona hijau. LQ45 naik 1,88 poin atau 0,30 persen ke level 636,01.
IHSG Sempat Naik ke 6.388,58
Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat bergerak lebih tinggi hingga mencapai level 6.388,58. Namun, indeks juga sempat turun ke level terendah 6.379,95 dalam pantauan awal perdagangan.
Sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.381,37 atau masih menguat sekitar 0,25 persen atau 16 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Pergerakan IHSG pada awal perdagangan menunjukkan indeks masih berusaha mempertahankan momentum positif setelah dibuka di zona hijau. Meski demikian, tekanan jual kemudian muncul cukup cepat.
Data pada layar perdagangan BEI sekitar pukul 09.10 WIB menunjukkan IHSG bergerak ke level 6.320,108 atau terkoreksi 0,71 persen. Jika dibandingkan dengan level pembukaan 6.383,81, posisi tersebut menunjukkan koreksi sekitar 63,7 poin dalam waktu singkat.
Sementara dibandingkan level tertinggi awal perdagangan di 6.388,58, penurunan menuju 6.320,108 mencapai sekitar 68,47 poin.
Level 6.377 Jadi Perhatian
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan pelaku pasar masih bersikap wait and see terhadap sejumlah sentimen global dan domestik.
Menurut Liza, level 6.377 menjadi salah satu titik penting yang perlu diperhatikan dalam pergerakan IHSG.
"Selama mampu kembali menembus dan kembali bertahan di atas 6.377, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.463-6.500, dengan target berikutnya sekitar 6.723. Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.299 berisiko memicu koreksi menuju 6.264, kemudian 6.230," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Investor Menanti Data Inflasi AS
Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada rilis data CPI AS periode Juli 2026 yang dijadwalkan pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Pasar memperkirakan inflasi tahunan AS melambat menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen pada Juni 2026.
Sebelumnya, data tenaga kerja AS yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026.
Liza mengatakan fokus kebijakan moneter AS kini beralih pada data inflasi setelah laporan tenaga kerja Juli 2026 menunjukkan penurunan 23.000 pekerjaan. Selain itu, terdapat revisi payroll Mei-Juni 2026 sebesar 103.000.
Kondisi tersebut membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026. Karena itu, data CPI Juli 2026 menjadi indikator penting berikutnya bagi pelaku pasar.
Ketegangan AS-Iran Jadi Sentimen Pasar
Selain data ekonomi AS, ketegangan antara AS dan Iran kembali menjadi perhatian. Iran menolak pembicaraan langsung dengan AS dan menetapkan sejumlah syarat untuk pembukaan kembali Selat Hormuz.
Syarat tersebut antara lain pencabutan sanksi dan penghentian blokade laut. Menurut Liza, ketidakpastian tersebut meningkatkan risiko terhadap kelancaran jalur perdagangan energi global.
Sentimen geopolitik tersebut turut menjadi bagian dari faktor eksternal yang dicermati investor dalam menentukan arah perdagangan.
Keyakinan Konsumen Indonesia Melemah
Dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan daya beli masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada bulan sebelumnya.
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga melemah menjadi 125,7 dari 126,4. Kendati masih berada dalam level optimistis, penurunan tersebut menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati terhadap prospek pendapatan, lapangan kerja, dan daya beli.
Di sisi lain, porsi pendapatan masyarakat untuk cicilan meningkat menjadi 10,5 persen dari sebelumnya 10 persen. Porsi konsumsi juga naik tipis menjadi 73 persen dari 72,7 persen.
Perubahan tersebut mengindikasikan ruang belanja masyarakat mulai terbatas.
Bursa Regional Asia Bergerak Variatif
Pergerakan bursa saham regional Asia pada Selasa pagi menunjukkan kondisi yang beragam. Indeks Nikkei menguat 2,08 persen ke 66.970,22, sedangkan Shanghai melemah 0,11 persen ke 3.962,56.
Hang Seng juga turun 0,45 persen ke 25.818,00. Sebaliknya, Kospi menguat 0,76 persen ke 6.347,60 dan Strait Times naik 0,83 persen ke 5.746,38.
Sementara itu, perdagangan bursa saham Amerika Serikat di Wall Street pada Senin (10/8) berakhir melemah. Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,10 persen ke 53.975,63, S&P 500 turun 0,10 persen ke 7.753,46, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,30 persen ke 26.605,63.
Saham Transaksi Besar di BEI
Pada perdagangan sebelumnya, Senin (10/8), sejumlah saham mencatat nilai transaksi besar. TPIA menjadi salah satu saham dengan nilai transaksi tertinggi, yakni sekitar Rp1,44 triliun, tetapi ditutup turun 110 poin ke Rp2.120.
DSSA mencatat transaksi sekitar Rp1,28 triliun dan menguat 10 poin ke Rp985. BUMI memiliki nilai transaksi sekitar Rp856,55 miliar dan ditutup stagnan di Rp187.
BBRI mencatat transaksi sekitar Rp724,68 miliar dan turun 40 poin ke Rp3.090. BMRI juga mencatat transaksi sekitar Rp625,39 miliar dan ditutup turun 60 poin ke Rp4.180.
Sementara BBCA mencatat transaksi sekitar Rp566,83 miliar, IATA sekitar Rp449,99 miliar, DEWA sekitar Rp440,07 miliar, BRPT sekitar Rp392,86 miliar, dan AMMN sekitar Rp377,34 miliar.
Total nilai transaksi seluruh instrumen di BEI pada perdagangan Senin mencapai sekitar Rp18,20 triliun dengan volume perdagangan 46,98 miliar lembar/unit dan frekuensi transaksi 2,63 juta kali.
Di tengah beragam sentimen tersebut, IHSG mengawali perdagangan Selasa dengan penguatan 0,29 persen ke 6.383,81. Pergerakan indeks selanjutnya masih menjadi perhatian investor seiring penantian data inflasi AS dan perkembangan sentimen global maupun domestik. (ant/nsp)