- tvOnenews.com/Wildan M.
Rupiah Terancam Tembus Rp18.000, Pengamat Soroti Risiko APBN 2027
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan pada awal perdagangan pekan depan.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah dibuka melemah ke kisaran Rp17.820 hingga Rp17.880 per dolar Amerika Serikat (AS), meski sebelumnya mata uang rupiah berhasil menguat.
Penguatan rupiah pada penutupan perdagangan Jumat dinilai belum cukup untuk menghilangkan tekanan eksternal. Ibrahim menyebut sentimen global masih menjadi faktor yang dapat membayangi pergerakan rupiah dalam perdagangan pekan depan.
“Kemudian untuk rupiah sendiri, walaupun kemarin menguat, pidato Presiden juga cukup bagus juga tentang APBN tahun 2027. Tetapi ada kemungkinan bahwa harga rupiah kemungkinan besar dibuka melemah, mungkin karena faktor eksternal yang mempengaruhi, yaitu range-nya itu di Rp17.820 sampai di Rp17.880,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Minggu (16/8/2026).
Menurut dia, pelemahan tersebut berpotensi mencapai sekitar 60 poin. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perdagangan Jumat ketika rupiah mampu menguat 50 poin.
“Jadi ada kemungkinan besar ada 60 poin lah pelemahan mata uang Rupiah,” ujarnya.
“Memang kalau kita lihat bahwa rupiah kemarin dalam penutupan pasar di hari Jumat ini mengalami penguatan 50 poin,” sambung Ibrahim.
Salah satu katalis positif rupiah berasal dari pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai arah kebijakan fiskal 2027.
Pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen, lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Pemerintah juga menetapkan target inflasi 2,5 persen serta defisit anggaran Rp671,2 triliun.
“Salah satu yang membuat rupiah menguat itu adalah pidato Presiden Prabowo bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun 2027 dipatok di 6 persen. Yang sebelumnya diasumsi APBN 2026 di 2026 itu sebesar 5,4 persen,” kata Ibrahim.
“Kemudian inflasi pun juga di 2,5 persen. Kemudian defisit anggaran dipatok sebesar Rp671,2 triliun atau di 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto,” lanjutnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, Ibrahim menyoroti satu titik rawan dalam rancangan APBN 2027, yakni asumsi nilai tukar rupiah. Pemerintah menetapkan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, lebih lemah dibanding asumsi dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500.
Ibrahim menilai asumsi tersebut berpotensi kembali meleset apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut hingga tahun depan. Bahkan, ia memperkirakan rupiah berpeluang bergerak di atas Rp18.000 per dolar AS.
“Nah, kita melihat bahwa ada satu yang mungkin akan saya jadikan sebagai permasalahan yang kemungkinan di tahun 2027. Yang pertama adalah di APBN itu dipatok di level Rupiah itu dipatok di level Rp17.500. Dipatok di Rp17.500 yang sebelumnya itu di Rp16.500,” tuturnya.
“Nah, saya melihat bahwa ada kemungkinan besar di tahun 2026, di tahun 2027 Rupiah itu kemungkinan di atas Rp18.000,” lanjut Ibrahim.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah yang berada di atas asumsi APBN dapat memberikan tekanan tambahan terhadap ruang fiskal pemerintah.
Pasalnya, depresiasi rupiah berpotensi meningkatkan beban anggaran, terutama ketika pemerintah harus memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan transaksi dalam valuta asing.
“Nah, artinya apa? Ini pun juga kalau seandainya rupiah masih di atas Rp17.500, ini kemungkinan besar akan membuat defisit anggaran walaupun sudah defisit anggaran tahun 2027 itu di 2,8 persen,” katanya.
“Tetapi kemungkinan besar akan lebih dari 2,86 persen apabila rupiah terus mengalami pelemahan,” tegas Ibrahim.
Selain rupiah, pergerakan indeks dolar AS juga diperkirakan masih menjadi sumber volatilitas pasar valuta asing pada pekan depan.
Ibrahim memperkirakan indeks dolar akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, mencerminkan masih tingginya ketidakpastian eksternal.
“US Dolar dalam perdagangan pekan depan, dalam satu minggu, kemungkinan besar ini akan cukup fluktuatifnya juga tinggi,” ujarnya.
“Di support-nya 99,00, kemudian resistance-nya di 101,90, bahkan akan menyentuh di resistance 102,00. Jadi kalau kita lihat bahwa Indeks Dolar ini di 99,00 dan 102,00,” pungkas Ibrahim. (agr/muu)