news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi nilai tukar rupiah menguat..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Wildan Mustofa

BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.840

Meski berhasil menguat, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas. Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan kecenderungan melemah.
Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:02 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Rupiah menguat tipis pada perdagangan Rabu (19/8/2026) setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Namun, pengamat menilai pergerakan mata uang Garuda masih akan fluktuatif dan berpotensi kembali melemah pada perdagangan Kamis.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup menguat 22 poin ke level Rp17.840 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.862. Rupiah sempat menguat hingga 30 poin sepanjang perdagangan.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 22 poin sebelumnya sempat menguat 30 point di level Rp17.840 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.862,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Rabu (19/8/2026).

Meski berhasil menguat, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas. Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.840-Rp17.900 per dolar AS.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.840-Rp17.900,” ujarnya.

Pergerakan rupiah tersebut terjadi bersamaan dengan keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 18-19 Agustus 2026.

Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Keputusan mempertahankan suku bunga menjadi bagian dari strategi BI menghadapi tekanan eksternal yang masih tinggi. Gejolak global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar serta arus modal ke pasar domestik.

“Kebijakan moneter itu juga menjadi upaya untuk menjaga inflasi dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah serta memperkuat pertumbuhan ekonomi,” tandas dia.

Namun, BI tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga. Bank sentral juga memperluas berbagai kebijakan insentif untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing ke Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan likuiditas di pasar keuangan domestik. BI juga berupaya mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Selain menjaga stabilitas, kebijakan tersebut diarahkan untuk mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas). Dengan pasar keuangan yang semakin dalam, BI berharap ketahanan rupiah terhadap gejolak eksternal dapat semakin kuat. (agr/rpi)

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:17
05:07
01:30
06:26
01:12
01:16

Viral