news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ilustrasi rupiah.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Wildan M.

Rupiah Melemah ke Rp17.697 per Dolar AS Usai Laporan soal Defisit Neraca Transaksi dan Kredit Perbankan Juli 2026

Rupiah melemah ke Rp17.697 per dolar AS usai laporan soal defisit neraca transaksi dan kredit perbankan Juli 2026. 
Senin, 24 Agustus 2026 - 09:49 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah melemah ke Rp17.697 per dolar Amerika Serikat (AS) usai laporan soal defisit neraca transaksi dan kredit perbankan Juli 2026. 

Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah berada di level Rp17.705 per dolar AS pada Jumat, 21 Agustus 2026. 

Posisi rupiah menguat 74 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.779 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026.

Pada Senin, 24 Agustus 2026 rupiah ditransaksikan di Rp17.697 per dolar AS. 

Posisi rupiah melemah 3 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.

Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pertumbuhan kredit Juli 2026 tetap solid, meskipun dunia usaha mengurangi aktivitas peminjaman di tengah ketidakpastian.

Kredit perbankan Juli 2026 tumbuh 13,58 persen year-on-year (yoy) atau meningkat dari 12,67 persen pada Juni 2026.

Hal ini didorong insentif likuiditas rasio kecukupan modal (CAR) perbankan yang berada di level tinggi 23,70 persen.

Kemudian, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga rendah di kisaran 2,09 persen (bruto) dan kebijakan makroprudensial yang akomodatif dari BI bukan karena penurunan minat dari dunia usaha. 

BI melaporkan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar US$12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau 3,3 persen terhadap PDB.

Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer.

Pada kuartal sebelumnya, defisit transaksi berjalan hanya sebesar US$3,6 miliar atau 1,0 persen dari PDB.

Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia. 

Surplus neraca perdagangan non-migas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi peningkatan impor non-migas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat, sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada kuartal I-2026.

Di samping itu, kekhawatiran terhadap inflasi pangan akibat El Niño sangat beralasan karena fenomena iklim ini dapat menurunkan produksi pertanian akibat kekeringan panjang.

Hal ini berpotensi membuat pasokan beras dan komoditas lain berkurang, sehingga memicu lonjakan harga barang dan pada akhirnya menggerus daya beli serta tingkat kepercayaan masyarakat. 

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:39
09:08
00:57
07:06
02:25
02:15

Viral