- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
IHSG Dibuka Hijau di 6.535,72, Akankah Penguatan Berlanjut dan Bikin Investor Happy?
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, di zona hijau. Penguatan terjadi di tengah meredanya risiko stabilitas keamanan dan politik di dalam negeri.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 13,97 poin atau 0,21 persen ke level 6.535,72. Pergerakan positif juga terlihat pada kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang naik 1,99 poin atau 0,31 persen ke posisi 643,06.
Penguatan IHSG pada awal perdagangan tersebut menjadi angin segar bagi pasar saham domestik setelah dalam beberapa hari sebelumnya investor cenderung dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi keamanan dan politik di dalam negeri.
Namun, apakah penguatan IHSG pada pembukaan ini akan bertahan hingga perdagangan berakhir dan membuat investor menutup pekan dengan happy weekend?
IHSG Berpotensi Bergerak Sideways
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat akan cenderung sideways. Artinya, indeks berpotensi bergerak dalam rentang terbatas dan belum menunjukkan arah penguatan atau pelemahan yang terlalu kuat.
IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.450-6.580 menjelang akhir pekan. Pergerakan pasar juga akan dipengaruhi oleh perhatian investor terhadap pidato Chairman The Fed Kevin Warsh dalam simposium ekonomi tahunan di Jackson Hole.
"Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran 6,450-6,580, menjelang akhir pekan dan pidato Chairman The Fed di simposium Jackson Hole," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dengan proyeksi tersebut, penguatan 0,21 persen pada pembukaan belum dapat menjadi jaminan IHSG akan mempertahankan kenaikannya sampai penutupan perdagangan.
Investor masih akan mencermati berbagai sentimen yang berkembang sepanjang sesi perdagangan, baik dari dalam negeri maupun pasar global.
Risiko Politik dan Keamanan Domestik Mulai Mereda
Dari dalam negeri, meredanya risiko politik dan keamanan menjadi salah satu sentimen yang direspons positif oleh pelaku pasar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pasar saham dalam beberapa hari terakhir cenderung mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap situasi keamanan dan politik domestik.
Sejumlah perkembangan politik dan kebijakan juga menjadi perhatian investor. DPR RI menargetkan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset menjadi Undang-Undang paling lambat pada 15 Desember 2026.
Selain itu, Komisi XI DPR RI telah menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih untuk periode 2026-2031.
Dengan persetujuan tersebut, Destry Damayanti secara definitif menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI pada 25 Juli 2026. Sementara posisi Deputi Gubernur Senior BI beralih kepada Aida S. Budiman.
Menurut Ratna, kepastian mengenai susunan pimpinan BI tersebut diharapkan dapat mengurangi ketidakpastian terkait kebijakan moneter BI ke depan.
"Dengan demikian diharapkan akan mengurangi ketidakpastian mengenai kebijakan moneter BI selanjutnya serta menjaga stabilitas dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia," ujar Ratna.
Danantara Siapkan Investasi 1 Miliar Dolar AS
Sentimen domestik lainnya datang dari Danantara Indonesia. Lembaga tersebut mengalokasikan dana sebesar 1 miliar dolar AS kepada perusahaan manajemen aset asal Swiss, Partners Group, untuk investasi di sektor private credit.
Dari total dana tersebut, sebanyak 600 juta dolar AS ditempatkan kepada Partners Group untuk investasi pada peluang direct lending.
Sementara itu, 400 juta dolar AS lainnya dialokasikan sebagai discretionary tranche. Dana tersebut akan dikelola Partners Group dan digunakan untuk kebutuhan co-investment.
Wall Street Menguat, Nvidia Jadi Perhatian
Dari pasar global, bursa saham Wall Street mencatatkan penguatan. Salah satu pendorongnya berasal dari kinerja kuartalan Nvidia yang kembali membangkitkan antusiasme investor terhadap sektor kecerdasan buatan atau AI.
Nvidia, perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, mencatatkan pendapatan kuartalan yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan perangkat keras di tengah pembangunan infrastruktur AI dalam skala besar.
"Hal ini mengingatkan investor bahwa sektor AI dan teknologi masih menjadi pendorong utama penguatan di Wall Street," ujar Ratna.
Pada Kamis, 27 Agustus 2026, indeks S&P 500 menguat 0,72 persen ke 7.730,99. Nasdaq naik 1,57 persen ke 26.541,35, sedangkan Dow Jones menguat 0,20 persen ke 53.569,44.
Bursa Asia Kompak Menghijau
Sentimen positif juga terlihat di sejumlah bursa saham regional Asia pada Jumat pagi.
Indeks Nikkei tercatat menguat 0,75 persen ke 66.623,00. Shanghai naik 0,16 persen ke 3.962,12, Hang Seng menguat 0,21 persen ke 25.630,50, sedangkan Strait Times naik tipis 0,02 persen ke 5.685,33.
Di sisi lain, harga minyak mentah global turut menguat setelah Amerika Serikat mengonfirmasi tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Iran.
Kondisi tersebut membuat harapan pemulihan aliran minyak melalui Timur Tengah meredup. Sebelumnya, Iran menyatakan akan membuka Selat Hormuz jika Amerika Serikat menyetujui persyaratan yang diajukan Iran.
"Ketidakpastian kondisi di Timur Tengah berpotensi membuat harga minyak masih bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya," ujar Ratna.
Sementara itu, imbal hasil obligasi US Treasury tidak banyak berubah menjelang dimulainya simposium ekonomi tahunan Federal Reserve di Jackson Hole. Investor masih menantikan pidato Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Dengan IHSG dibuka menguat 13,97 poin atau 0,21 persen ke 6.535,72, sentimen awal perdagangan memang positif. Namun, proyeksi sideways di rentang 6.450-6.580 menunjukkan perjalanan IHSG hingga penutupan masih akan bergantung pada respons investor terhadap sentimen domestik dan global sepanjang perdagangan Jumat.