- YouTube/BPS RI
Impor Mesin dan Elektronik Melonjak, Tembus 37,88 Persen dari Total Impor Nonmigas RI
Jakarta, tvOnenews.com – Impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap mesin, peralatan elektronik, hingga bahan baku industri.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tiga komoditas utama nonmigas—mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik—menyumbang 37,88 persen dari total impor nonmigas Indonesia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kenaikan impor tiga komoditas tersebut tidak hanya terjadi dari sisi nilai, tetapi juga volume. Kondisi itu menunjukkan peningkatan impor berlangsung seiring bertambahnya jumlah barang yang masuk ke Indonesia.
“Perkembangan tiga komoditas utama non-migas yang diimpor Indonesia sepanjang Januari sampai dengan Juli tahun 2026 yaitu mesin peralatan mekanik, mesin perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik,” kata Ateng dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
“Pada Januari hingga Juli tahun 2026 nilai impor ketiga komoditas tersebut memberikan andil atau share sebesar 37,88 persen terhadap total impor non-migas,” sambungnya.
Ateng menegaskan, ketiga komoditas tersebut mencatat pertumbuhan baik dari nilai maupun volume dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Nilai impor komoditas utama mengalami peningkatan baik dari sisi nilai maupun juga dari sisi volume jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun yang lalu,” ujarnya.
Mesin dan peralatan mekanik mencatat kenaikan nilai impor sebesar 16,31 persen. Sementara volumenya tumbuh 9,02 persen.
“Untuk nilai impor mesin dan peralatan mekanik ini naik 16,31 persen, sedangkan volumenya juga mengalami peningkatan sebesar 9,02 persen,” kata Ateng.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada mesin dan perlengkapan elektrik. Nilai impornya melonjak 22,38 persen, sementara volumenya bahkan meningkat hingga 51,16 persen.
“Untuk nilai impor mesin perlengkapan elektrik naik cukup tinggi yaitu naik 22,38 persen dan juga volumenya naik 51,16 persen,” tuturnya.
Adapun impor plastik dan barang dari plastik meningkat 21,10 persen dari sisi nilai. Volumenya juga tumbuh 14,99 persen.
“Serta untuk impor plastik dan barang dari plastik naik sebesar 21,10 persen dengan kenaikan volumenya sebesar 14,99 persen,” ujar Ateng.
Dari sisi negara asal, ketergantungan impor nonmigas Indonesia terkonsentrasi pada tiga negara utama, yakni Tiongkok, Jepang, dan Australia.
Ketiganya menyumbang 52,69 persen dari total impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026.
“Berikutnya perkembangan impor non-migas menurut negara dan kawasan asal utama impor sepanjang Januari sampai dengan Juli tahun 2026. Ada tiga negara besar ya, tiga besar negara asal impor yaitu Tiongkok, Jepang, dan juga Australia dengan share atau andil ketiganya 52,69 persen dari total impor non-migas Indonesia,” kata Ateng.
Tiongkok menjadi sumber impor terbesar dengan nilai mencapai US$58,29 miliar. Impor dari negara tersebut terutama didominasi mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), yang menyumbang 21,98 persen dan tumbuh 28,86 persen secara kumulatif.
“Untuk impor non-migas dari Tiongkok mencapai US$58,29 miliar terutama didominasi oleh impor mesin peralatan elektrik atau HS 85 dengan share-nya 21,98 persen dan tumbuh 28,86 persen secara c-to-c-nya,” ujarnya.
Sementara itu, impor nonmigas dari Jepang tercatat US$7,71 miliar. Impor dari Jepang terutama berupa mesin dan peralatan mekanik (HS 84), dengan share 27,38 persen. Namun, nilainya mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 15,39 persen secara kumulatif.
“Untuk impor non-migas dari Jepang tercatat US$7,71 miliar terutama didominasi impor mesin peralatan mekanik atau HS 84 dengan share-nya 27,38 persen dan turun, ini turun cukup besar yaitu turun 15,39 persen secara c-to-c-nya,” kata Ateng.
Sementara itu, impor nonmigas dari Australia mencapai US$6,47 miliar. Komoditas yang mendominasi impor dari negara tersebut adalah logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71), dengan share 23,15 persen.
Yang mencolok, nilai impor komoditas tersebut dari Australia melonjak 202,81 persen secara kumulatif.
“Untuk impor non-migas dari Australia tercatat US$6,47 miliar terutama didominasi oleh impor logam mulia dan perhiasan atau permata di HS 71 dengan share-nya 23,15 persen dan tumbuh cukup besar yaitu tumbuh 202,81 persen secara c-to-c-nya,” pungkas Ateng. (agr/rpi)