- shutterstock
27 Provinsi Dilanda Inflasi, Bangka Belitung dan Maluku Tertinggi hingga 0,81 Persen
Jakarta, tvOnenews.com – Tekanan harga pada Agustus 2026 tidak merata di seluruh Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 27 provinsi mengalami inflasi secara bulanan, sementara 11 provinsi lainnya justru mengalami deflasi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, inflasi tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku dengan angka yang sama, yakni 0,81 persen.
“Jika dilihat sebaran inflasi month-to-month atau bulanan menurut wilayahnya. 27 provinsi mengalami inflasi dan 11 provinsi mengalami deflasi,” kata Ateng dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
“Adapun inflasi tertinggi ini terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku yaitu sebesar masing-masing 0,81 persen,” sambungnya.
Sebaliknya, Papua Pegunungan mencatat deflasi terdalam pada Agustus 2026. Penurunan harga di wilayah tersebut mencapai 1,27 persen secara bulanan.
“Sedangkan deflasi terdalam ini terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,27 persen,” ujar Ateng.
- YouTube/BPS RI
Secara nasional, inflasi bulanan Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen. Jika dilihat berdasarkan komponennya, tekanan terbesar datang dari komponen harga bergejolak yang erat kaitannya dengan pergerakan harga pangan.
“Inflasi bulan ke bulan atau month-to-month menurut komponennya. Komponen inti dan komponen bergejolak ini mengalami inflasi, sedangkan komponen harga yang diatur oleh pemerintah mengalami deflasi,” kata Ateng.
“Inflasi Agustus tahun 2026 yang sebesar 0,21 persen terutama didorong oleh inflasi pada komponen bergejolak,” lanjutnya.
Komponen bergejolak tercatat mengalami inflasi sebesar 0,88 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,15 persen.
“Komponen bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,88 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,15 persen,” ujarnya.
Daging ayam ras, cabai rawit, dan beras menjadi komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan pada komponen tersebut.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak terutama daging ayam ras, cabai rawit, dan juga beras,” tutur Ateng.
Selain pangan, tekanan harga juga berasal dari komponen inti. Komponen ini mengalami inflasi sebesar 0,21 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,13 persen.
“Sedangkan untuk komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,21 persen. Komponen inti ini memberikan andil inflasi 0,13 persen,” kata Ateng.
Sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi komponen inti, mulai dari emas perhiasan hingga biaya pendidikan tinggi.
“Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti terutama emas perhiasan, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, dan juga biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi,” ujarnya.
Angkutan Udara dan Bensin Jadi Penahan
Di sisi lain, komponen harga yang diatur pemerintah justru mengalami deflasi. Komponen tersebut mencatat deflasi sebesar 0,33 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,07 persen.
“Komponen harga yang diatur oleh pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,33 persen. Komponen ini memberikan andil deflasi sebesar 0,07 persen,” tutur Ateng.
Penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi dari komponen tersebut.
“Adapun komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah yaitu tarif angkutan udara dan juga bensin,” pungkasnya. (agr/rpi)