- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Rupiah Makin Tertekan, Ditutup Rp17.750 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global
Penguatan dolar menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini.
Selain faktor tersebut, perhatian pasar juga tertuju pada meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 68%. Angka tersebut meningkat dibandingkan 35% sebelum pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Warsh sebelumnya menyampaikan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi tidak berhasil mereda.
Pernyataan tersebut memperkuat dugaan di pasar bahwa kenaikan suku bunga kembali diperlukan untuk mengendalikan tekanan harga.
Kurs Rupiah RAPBN 2027 Dipatok Rp17.500
Di tengah tekanan terhadap rupiah dan gejolak ekonomi global, pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Komisi XI DPR RI telah menyepakati sejumlah asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Salah satu asumsi yang disepakati adalah nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS.
Angka tersebut berada dalam rentang proyeksi BI untuk pergerakan rupiah pada 2027. BI memperkirakan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Dengan posisi rupiah yang ditutup di Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan 2 September 2026, level tersebut berada 250 poin di atas asumsi kurs yang disepakati dalam RAPBN 2027.
Sejumlah Asumsi Ekonomi 2027 Disepakati
Selain nilai tukar rupiah, pemerintah dan Komisi XI DPR RI juga menyepakati sejumlah asumsi dasar ekonomi makro lainnya untuk RAPBN 2027.
Asumsi yang telah disepakati tersebut meliputi:
-
Pertumbuhan ekonomi: 6%
-
Inflasi: 2,5%
-
Nilai tukar rupiah: Rp17.500 per dolar AS
-
Suku bunga SBN tenor 10 tahun: 6,9%
-
Defisit anggaran: 2,4% atau Rp671,2 triliun
Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun mengatakan penetapan asumsi tersebut telah mempertimbangkan perkembangan perekonomian global dan domestik.
Menurutnya, penyusunan asumsi ekonomi makro juga memperhitungkan berbagai peluang dan risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional.
Pergerakan rupiah sendiri masih menjadi perhatian di tengah kondisi pasar global yang dipengaruhi penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, perkembangan konflik AS-Iran, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.