- ANTARA
IMF Peringatkan Utang Dunia Makin Berat, AS hingga Negara Berkembang Terancam Tertekan
Tekanan tersebut dapat semakin terasa bagi negara berkembang dan negara berpendapatan rendah. Ketika anggaran pemerintah semakin banyak digunakan untuk membayar utang dan bunga, ruang untuk membiayai kebutuhan lain menjadi lebih terbatas.
Dana untuk pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan berpotensi menghadapi tekanan ketika pembayaran utang menyerap porsi anggaran yang lebih besar.
Pada saat bersamaan, pembiayaan dari luar negeri juga mengalami penurunan. Georgieva menyebut bantuan pembangunan resmi berkurang, begitu pula aliran dana baru dari sejumlah kreditur.
IMF menilai kondisi utang negara berkembang memang menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perkembangan tersebut belum terjadi secara merata.
Untuk negara yang sudah tidak mampu menanggung beban utangnya, Georgieva mendorong perbaikan proses penataan ulang utang. Ia juga meminta negara lebih transparan mengenai data utang dan memperkuat pengelolaannya agar lebih siap menghadapi guncangan berikutnya.
Utang AS Capai US$40,18 Triliun
Tekanan utang juga dihadapi Amerika Serikat (AS), meski negara tersebut merupakan perekonomian terbesar di dunia.
Secara nominal, utang pemerintah AS tercatat sekitar US$40,18 triliun pada Agustus 2026.
Pemerintah AS sebelumnya sempat mencatat penurunan defisit anggaran. Berdasarkan Fiscal Monitor IMF edisi April 2026, defisit turun dari 7,9 persen PDB pada 2024 menjadi 6,8 persen PDB pada 2025.
Salah satu faktor yang mendorong peningkatan penerimaan adalah pendapatan dari tarif impor. Penerimaan tersebut mencapai US$264 miliar sepanjang 2025.
Namun, penurunan defisit belum menghentikan kenaikan utang pemerintah AS. IMF memperkirakan defisit pemerintah AS masih berada di kisaran 7-8 persen PDB dalam beberapa tahun mendatang.
Pada saat yang sama, pembayaran bunga diperkirakan terus meningkat dan mendekati 5 persen PDB pada 2031.
Rasio Utang AS Diproyeksi 142 Persen PDB
Beban bunga yang semakin besar membuat pengelolaan anggaran pemerintah AS menghadapi tekanan tambahan. Ketika pengeluaran melampaui penerimaan, pemerintah perlu mencari pembiayaan tambahan melalui pinjaman.
Utang yang semakin besar kemudian menghasilkan kewajiban pembayaran bunga yang semakin tinggi.
IMF memperkirakan rasio utang publik AS dapat meningkat dari 123,9 persen PDB pada 2025 menjadi sekitar 142 persen PDB pada 2031.
IMF juga menyoroti perubahan struktur pembiayaan utang AS. Porsi surat utang berjangka pendek meningkat dalam satu dekade terakhir.