- ANTARA
Rupiah Tertekan ke Rp17.847 per Dolar, BI Ungkap Biang Keroknya
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan hingga mencapai level Rp17.847 per dolar Amerika Serikat pada Senin (21/9/2026).
Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menjadi pemicu tekanan terhadap mata uang Garuda. Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel.
Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan risiko inflasi secara global. Pada saat yang sama, lonjakan harga minyak juga berpotensi memperberat proyeksi fiskal nasional.
Gejolak Timur Tengah Tekan Rupiah
Gejolak geopolitik Timur Tengah menjadi salah satu perhatian pasar karena berpengaruh langsung terhadap harga komoditas energi dunia.
Kenaikan harga minyak hingga berada di atas US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Bagi negara yang memiliki kebutuhan energi impor, kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing.
Tekanan tersebut kemudian ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Bank Indonesia menyebut tekanan rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Permintaan valuta asing dari importir di dalam negeri juga menjadi salah satu faktor yang mendorong pelemahan mata uang domestik.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Investor Asing Lepas Aset Domestik
Selain kebutuhan valas dari importir, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh adanya arus keluar dana dari aset portofolio domestik.
Aksi pelepasan aset domestik oleh investor asing meningkatkan tekanan terhadap pasar valuta asing. Kondisi ini terjadi ketika pelaku pasar melakukan penyesuaian portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari gejolak geopolitik, kenaikan harga minyak, kebutuhan valuta asing importir hingga arus keluar dana dari portofolio aset domestik.
BI Perkuat Intervensi Pasar
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas, Bank Indonesia memperkuat operasi moneter pro-market.
Bank sentral juga mengoptimalkan skema transaksi underlying untuk swap lindung nilai. Selain itu, BI terus melakukan intervensi pasar secara berkesinambungan melalui sejumlah instrumen.
Intervensi tersebut dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan dan mengurangi tekanan berlebihan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.
BI Dorong Arus Modal Masuk
Selain melakukan intervensi langsung di pasar, BI juga meningkatkan komunikasi dengan para pelaku pasar dan korporasi.
Komunikasi tersebut diarahkan untuk mendorong aliran modal masuk ke pasar domestik. Bank sentral juga terus mendorong diversifikasi permintaan valuta asing melalui optimalisasi skema Local Currency Transaction (LCT).
Skema LCT menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS dalam transaksi lintas negara.
Di tengah tekanan tersebut, BI mencatat pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan regional.
Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat menguat sebesar 0,37%.
Cadangan Devisa Naik Jadi US$146,5 Miliar
Bank Indonesia juga menyampaikan kondisi cadangan devisa yang masih mengalami peningkatan.
Hingga akhir Agustus 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai US$146,5 miliar.
"Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026," kata Erwin.
Posisi cadangan devisa tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah tekanan pasar keuangan global.
Dengan berbagai langkah tersebut, BI terus memantau perkembangan pasar valuta asing, kondisi global, serta kebutuhan valas domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.