- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
IHSG Ambruk 1,39% ke 6.295,92, Saham Energi hingga Bank Jadi Beban Pasar
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memperdalam pelemahan hingga penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026). Berdasarkan data pada akhir sesi II, IHSG ditutup di level 6.295,924, melemah 1,39%.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan di pasar saham Indonesia berlanjut hingga akhir perdagangan setelah pada sesi pertama IHSG sebelumnya berada di level 6.313,57 atau turun 1,11%.
Dengan demikian, indeks kembali bergerak turun pada paruh kedua perdagangan dan berakhir di bawah level 6.300.
Berdasarkan grafik perdagangan, IHSG sempat berada di kisaran 6.400 pada awal sesi, sebelum tekanan jual membuat indeks turun bertahap. Pelemahan kemudian membawa IHSG bergerak di sekitar level 6.300 hingga menjelang penutupan.
Pada perdagangan Selasa, posisi IHSG juga tercatat menjadi salah satu yang paling tertekan di kawasan emerging market Asia Pasifik.
Seluruh Sektor Melemah
Tekanan pasar terlihat cukup merata karena seluruh indeks sektoral tercatat mengalami pelemahan.
Sektor energi menjadi salah satu sumber tekanan terbesar dengan penurunan mencapai 2,21%. Pelemahan sektor ini turut menjadi perhatian karena sejumlah saham berbasis komoditas dan energi mengalami tekanan sepanjang perdagangan.
Selain sektor energi, tekanan juga terlihat pada saham-saham perbankan. Pada sesi pertama, saham bank termasuk yang banyak mencatatkan penjualan bersih oleh investor asing.
Sementara itu, secara keseluruhan sebanyak 513 saham ditutup melemah, sedangkan hanya 147 saham yang menguat. Kondisi tersebut menunjukkan jumlah saham yang terkoreksi jauh lebih banyak dibandingkan saham yang berhasil menguat.
BUMI Jadi Salah Satu Saham Ramai Diperdagangkan
Pergerakan sejumlah saham dengan aktivitas transaksi tinggi turut menjadi perhatian pada perdagangan hari ini.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu saham yang mencatat aktivitas transaksi besar. Berdasarkan data perdagangan yang ditampilkan pada akhir sesi, BUMI berada di harga Rp192, turun Rp1 atau sekitar 0,52% dari harga sebelumnya dalam tabel tersebut.
Volume perdagangan BUMI mencapai sekitar 1,81 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp351,98 miliar dan frekuensi sebanyak 36.119 kali.
Selain BUMI, PT SQM Indonesia Tbk (SQMI) mencatat volume perdagangan sekitar 1,80 miliar saham dengan nilai transaksi Rp200,16 miliar. Berbeda dengan BUMI, saham SQMI ditutup menguat Rp10 ke level Rp109.
Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) tidak terlihat dalam daftar 10 saham berdasarkan volume pada tangkapan layar penutupan tersebut. Karena itu, data penutupan ini menunjukkan saham-saham dengan aktivitas volume terbesar yang tercatat dalam daftar.
Saham dengan Kenaikan dan Penurunan Terbesar di Daftar Aktif
Sejumlah saham dalam daftar aktivitas perdagangan menunjukkan pergerakan yang cukup mencolok.
PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) tercatat naik Rp23 atau sekitar 34,33% ke level Rp90. Volume perdagangan saham tersebut mencapai sekitar 1,37 miliar saham dengan nilai transaksi Rp115,54 miliar.
Sementara itu, PT Bintang Oto Global Tbk (BIPI) naik Rp10 ke level Rp150 dengan volume sekitar 793,52 juta saham.
Di sisi lain, saham BUMI turun Rp1 ke level Rp192. PT MNC Land Tbk (KPIG) juga melemah Rp3 ke level Rp65, sedangkan PT Indo Acidatama Tbk (SRSN) turun Rp5 ke level Rp124.
Data tersebut memperlihatkan bahwa meski IHSG berada dalam tekanan, masih terdapat sejumlah saham individual yang bergerak menguat cukup signifikan.
Investor Asing Masih Catat Net Sell
Tekanan terhadap IHSG juga terjadi bersamaan dengan aksi jual bersih investor asing.
Pada sesi pertama, investor asing tercatat melakukan net sell Rp351,12 miliar. Berdasarkan volume, net sell asing mencapai sekitar 47,79 juta lembar saham.
Saham-saham perbankan terlihat menjadi salah satu kelompok yang memimpin aksi jual bersih investor asing. Di sisi lain, sejumlah saham yang berkaitan dengan pertambangan mineral hingga telekomunikasi masih mencatatkan akumulasi oleh investor asing.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mewarnai perdagangan saham domestik pada Selasa.
Pasar Saham AS Justru Bergerak Positif
Berbeda dengan pasar saham Indonesia, sejumlah indeks utama Amerika Serikat yang ditampilkan dalam data related markets justru berada di zona hijau.
Dow Jones Industrial Average tercatat naik 0,71% ke level 52.048,83. Kemudian S&P 500 menguat 1,49% ke 7.764,70.
Sementara itu, Nasdaq Composite menjadi indeks dengan kenaikan terbesar dalam daftar tersebut, yakni 2,26% ke level 27.122,09. Russell 2000 juga naik 0,52% ke 2.875,36.
Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan perdagangan saham Indonesia pada Selasa 22 September 2026 berada dalam tekanan yang lebih kuat hingga sesi penutupan.
IHSG akhirnya mengakhiri perdagangan di 6.295,924, turun 1,39%, dengan tekanan terlihat pada mayoritas saham dan seluruh sektor yang tercatat melemah.