- tvOnenews/Julio Tri Saputra
BUMN Tekstil Baru Bakal Dibentuk, Danantara Siapkan Integrator untuk Bangkitkan Industri
Dengan pertimbangan tersebut, pembentukan perusahaan BUMN tekstil akan diarahkan tidak hanya untuk menghidupkan kembali industri, tetapi juga mengembangkan sektor tersebut dengan memperhatikan potensi investasi dan pengembangan teknologi.
Waktu Realisasi BUMN Tekstil Belum Dipastikan
Meski rencana pembentukan perusahaan BUMN tekstil telah disepakati pemerintah, waktu realisasinya belum ditentukan.
Rosan belum memberikan kepastian kapan perusahaan tersebut mulai dibentuk atau menjalankan kegiatan operasionalnya.
"Nanti dilanjut," kata Rosan saat ditanya mengenai waktu realisasi rencana BUMN tekstil tersebut.
Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria juga belum memberikan informasi mengenai modal awal yang akan digunakan untuk membentuk perusahaan baru tersebut.
"Mungkin nanti kita bahas khusus ya. Yang paling penting bagus kata bapak tadi," ujar Dony ketika ditanya mengenai modal awal pembentukan BUMN tekstil.
Danantara Pernah Disebut Siapkan US$6 Miliar
Rencana pembentukan BUMN tekstil sebelumnya telah disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Januari lalu.
Saat itu, Airlangga mengatakan Presiden telah mengingatkan mengenai keberadaan BUMN tekstil yang pernah dimiliki Indonesia dan rencana untuk menghidupkannya kembali.
Airlangga juga menyebut Danantara diperintahkan untuk menyiapkan pendanaan sebesar US$6 miliar untuk pendirian BUMN tekstil tersebut.
Dengan asumsi kurs Rp16.750 per dolar AS, nilai pendanaan US$6 miliar yang disebut Airlangga setara dengan sekitar Rp100,5 triliun.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali sehingga pendanaan US$ 6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara," tegas Airlangga.
Pemerintah Ingin Perkuat Rantai Industri Tekstil
Airlangga sebelumnya menjelaskan BUMN tekstil tersebut akan diarahkan untuk mendorong ekspor di seluruh rantai industri tekstil.
Rencana tersebut muncul ketika industri tekstil dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan. Pemerintah melihat masih terdapat kelemahan pada bagian tengah rantai nilai industri atau value chain.
"Nah kita ketahui memang kelemahan kita berada pada value chain yang di tengah yaitu tekstil dalam produksi benang, dalam produksi kain, printing, dan finishing," ungkap Airlangga.
Melalui rencana pembentukan BUMN tekstil baru, pemerintah ingin mengembangkan sektor tersebut secara terintegrasi, termasuk dengan melihat potensi perusahaan yang sudah ada serta pengembangan mesin dan teknologi.