news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ilustrasi rupiah.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Wildan M.

Rupiah Melemah ke Rp17.948 per Dolar AS Seiring Data Penjualan Barang Tahan Lama AS Lebih Kuat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 45 poin atau 0,25 persen pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026).
Senin, 28 September 2026 - 10:32 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 45 poin atau 0,25 persen.

Nilai tukar rupiah menjadi Rp17.948 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi data penjualan barang tahan AS yang lebih kuat dari perkiraan.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia, prospek kenaikan suku bunga The Fed menyusul data ekonomi AS yang lebih kuat serta penolakan proposal Iran oleh AS," katanya, Senin (28/9/2026). 

Dia memaparkan penjualan barang tahan lama AS tak berubah 0 persen—lebih tinggi dari perkiraan untuk turun 0,4 persen. 

Sebagaimana yang dilaporkan Xinhua, pesanan baru untuk barang tahan lama buatan AS pada bulan Agustus stabil di angka 338,6 miliar dolar AS.

Sementara itu, sebagaimana yang dilaporkan Anadolu, Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran dalam negosiasi tidak langsung di New York pekan ini.

Teheran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut oleh Washington, penghapusan sanksi terhadap penjualan minyak Iran dan pemulihan gencatan senjata di seluruh kawasan.

Di sisi lain, AS sedang mempertimbangkan serangan baru usai pemilihan umum sela di AS pada bulan November 2026.

Imbal hasil obligasi 10 tahun AS berada di angka 5,2 persen dan 30 tahun di angka 5,52 persen berdasarkan faktor-faktor tersebut. 

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 94,15 dolar AS per barel dan brent 103,2 dolar AS per barel.

Investor turut mencermati prospek kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Menurut CME FedWatch, saat ini para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang 70 persen untuk kenaikan suku bunga seperempat poin pada pertemuan The Fed bulan Oktober—naik dari 50 persen di awal pekan.

Hal tersebut disebabkan data ekonomi yang kuat dan komentar hawkish dari para pembuat kebijakan. 

Rupiah pun diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS jika sentimen-sentimen tersebut. (ant/nsi)

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:53
13:24
06:54
02:19
02:12
02:22

Viral