- PART
Bukukan Kinerja Positif di 2025, PART Kini Siapkan Right Issue hingga Buyback Saham
Jakarta, tvOnenews.com — PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) mencatat pertumbuhan kinerja positif sepanjang 2025, yang meningkat 38,23% menjadi Rp369,59 miliar dari Rp267,38 miliar pada 2024.
Kenaikan penjualan ini diikuti dengan pertumbuhan profitabilitas. Laba kotor meningkat 20,93% menjadi Rp70,78 miliar dari Rp58,53 miliar.
Laba usaha naik 29,93% dari Rp31,26 miliar menjadi Rp40,62 miliar, sedangkan laba bersih tumbuh 29,97% menjadi Rp30,21 miliar dari Rp23,24 miliar.
Direktur PART, Tjoeng Rino Saputra, mengatakan pertumbuhan kinerja pada 2025 menjadi pijakan bagi Perseroan untuk memperkuat bisnis utama sekaligus membuka peluang pengembangan usaha di sektor manufaktur.
“Pertumbuhan kinerja tahun 2025 menjadi landasan penting bagi Perseroan untuk melanjutkan pengembangan usaha secara berkelanjutan. Ke depan, kami akan tetap memperkuat bisnis komponen otomotif sebagai fondasi Perseroan, sekaligus mengembangkan kapabilitas engineering dan manufaktur untuk menjangkau kebutuhan industri yang lebih beragam,” ujar Tjoeng Rino Saputra, Selasa (29/9/2026).
Diversifikasi Manufaktur
Bisnis komponen otomotif masih menjadi salah satu fondasi utama kegiatan usaha PART. Seiring peningkatan kemampuan manufaktur, Perseroan juga mengembangkan berbagai produk dan solusi engineering yang dapat digunakan untuk kebutuhan sejumlah sektor industri.
Pengembangan tersebut didukung kemampuan PART di bidang engineering, stamping, welding, fabrikasi, perakitan, dan quality control. Sejumlah produk yang tengah dikembangkan antara lain mesin pengering food tray, mesin panjat kelapa, gas oil water fryer, mesin penabur dolomit, serta mesin digester Somya untuk pengolahan limbah.
Pengembangan produk tersebut membuka peluang bagi PART untuk memperluas pasar ke sektor peralatan pengolahan pangan, pertanian, pengolahan limbah, serta mesin dan peralatan industri.
Namun, proses diversifikasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, kesiapan teknologi dan produksi, kapasitas Perseroan, serta kelayakan ekonomi setiap produk yang dikembangkan.
Penguatan Bisnis Non-Otomotif
Pengembangan bisnis non-otomotif menjadi bagian dari strategi jangka menengah PART untuk memperluas basis pendapatan sekaligus memaksimalkan kemampuan manufaktur yang telah dimiliki.
Melalui penguatan kapabilitas engineering dan manufaktur, Perseroan menjajaki berbagai aplikasi mesin dan peralatan untuk sektor pertanian, pengolahan pangan, pengolahan limbah, serta kebutuhan industri lainnya.
Kemampuan fabrikasi, stamping, welding, perakitan, dan integrasi peralatan menjadi modal bagi PART dalam mengembangkan produk dan menyediakan solusi engineering berbasis proyek.
Dengan strategi tersebut, PART tidak hanya mengandalkan produksi komponen, tetapi juga secara bertahap membangun kapasitas sebagai manufacturing and engineering solution provider untuk berbagai kebutuhan industri.
Siapkan Right Issue Rp200 Miliar
Untuk mendukung pengembangan usaha, PART menyiapkan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp200 miliar.
Dana hasil aksi korporasi tersebut, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan terutama untuk memperkuat modal kerja. Penggunaannya mencakup pembelian bahan baku, peningkatan aktivitas produksi, kebutuhan operasional, serta pengembangan usaha Perseroan.
Pelaksanaan right issue akan mempertimbangkan kondisi pasar dan kebutuhan Perseroan. Aksi korporasi tersebut juga harus memperoleh persetujuan pemegang saham, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PART menargetkan pelaksanaan right issue pada kuartal I 2027 dengan tetap mempertimbangkan kesiapan Perseroan dan kondisi pasar.
Selain right issue, PART juga merencanakan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan pada tanggal RUPSLB. Anggaran untuk aksi tersebut maksimal Rp10 miliar.
Buyback direncanakan dilakukan secara bertahap dalam waktu paling lama 12 bulan setelah memperoleh persetujuan RUPSLB. Pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kondisi pasar, ketersediaan dana, kebutuhan operasional Perseroan, serta ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan Bursa Efek Indonesia yang berlaku.