news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Sulawesi Utara baru saja sukses menjadi tuan rumah perhelatan akbar Hari Kelapa Dunia atau World Coconut Day (WCD) 2026..
Sumber :
  • Dokumentasi BPDP

BPDP Perkuat Sinergi dalam WCD 2026 untuk Peningkatan Produktivitas Kelapa Indonesia

Sulawesi Utara baru saja sukses menjadi tuan rumah perhelatan akbar Hari Kelapa Dunia atau World Coconut Day (WCD) 2026. 
Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:34 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Sulawesi Utara baru saja sukses menjadi tuan rumah perhelatan akbar Hari Kelapa Dunia atau World Coconut Day (WCD) 2026. 

Acara yang berlangsung sejak 8 hingga 10 Oktober ini merupakan kolaborasi strategis antara International Coconut Community (ICC) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, dengan dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Perhelatan yang dipusatkan di Courtyard by Marriott, Manado, dan dibuka langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengusung tema "Coconuts in Times of Uncertainty: Securing Food, Energy, and Livelihoods". 

Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan kunjungan delegasi internasional ke Danau Linauw, Tomohon, sebagai upaya promosi pariwisata daerah.

Sebagai informasi, ICC merupakan wadah bagi 21 negara produsen kelapa yang menguasai sekitar 90 persen pangsa pasar global. Organisasi yang berkantor pusat di Jakarta ini berdiri sejak 1969. 

Menariknya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, ICC dipimpin oleh tokoh asal Indonesia, yakni Jelfina C. Alouw, yang juga menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan Direktur Jenderal di organisasi tersebut.

WCD 2026 menjadi ajang penting yang mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pakar industri, eksportir, hingga perwakilan pemerintah dari berbagai negara. 

Momentum ini sekaligus mengukuhkan Sulawesi Utara, yang dikenal sebagai "Bumi Nyiur Melambai", sebagai pusat utama riset, diplomasi, serta industri kelapa dunia.

Diskusi global dalam acara ini menyoroti potensi besar tanaman kelapa yang dijuluki sebagai Tree of Life atau pohon kehidupan. 

Julukan ini sangat tepat karena setiap bagian kelapa, mulai dari akar, batang, daun, hingga buah dan sabutnya, memiliki nilai guna yang tinggi.

Pemerintah Indonesia melalui BAPPENAS kini telah menempatkan kelapa sebagai salah satu dari tiga komoditas unggulan hilirisasi, bersama dengan sawit dan kakao. 

Di tengah dinamika pasar global, sektor kelapa dinilai memiliki prospek cerah. Pasalnya, melalui hilirisasi yang tepat, nilai jual produk olahan kelapa mampu melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan jika dijual dalam bentuk komoditas mentah.

Pilar Penopang Perkebunan Berkelanjutan

Dukungan BPDP dalam penyelenggaraan WCD 2026 merupakan bagian dari pelaksanaan program strategis BPDP dalam memajukan komoditas unggulan perkebunan nasional. 

Lembaga ini mendanai riset dan pengembangan inovasi tepat guna untuk menghasilkan varietas benih unggul tahan iklim, penanganan hama, dan formulasi produk hilir bernilai tinggi yang mampu menjawab tantangan industri modern. 

Di sisi sarana dan prasarana, BPDP menyalurkan bantuan alat pengolahan pascapanen, infrastruktur perkebunan, serta modernisasi teknologi bagi kelompok tani dan UMKM guna menekan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi produksi.

Komitmen BPDP juga menyasar pemberdayaan sumber daya manusia dan petani melalui pelatihan teknis, beasiswa bagi putra-putri petani, serta pendampingan Precision Farming bagi petani swadaya untuk meningkatkan produktivitas dan akses legalitas pasar internasional. 

Selain itu, BPDP menggalakkan promosi dan perluasan pasar ekspor untuk produk-produk turunan perkebunan Indonesia guna menembus pasar global yang menuntut standar keberlanjutan dan ketertelusuran yang ketat. 

Melalui dukungan pendanaan dalam WCD 2026, BPDP mempertegas komitmennya dalam mempercepat hilirisasi industri kelapa, mendorong industri tanpa limbah (zero waste industry), serta memperluas pemanfaatan energi terbarukan berbasis komoditas perkebunan.

Agenda Utama dan Peluang Investasi WCD 2026

Direktur Jenderal International Coconut Community (ICC), Dr. Jelfina C. Alouw, menegaskan bahwa tantangan iklim dan fluktuasi pasar global menuntut kerja sama antarnegara yang lebih kuat. 

"Kelapa bukan lagi sekadar tanaman komoditas tradisional, melainkan Tree of Life yang menjadi kunci bioekonomi masa depan. Diversifikasi produk dari hulu ke hilir—mulai dari pangan fungsional, briket arang kualitas ekspor, hingga bio-avtur (Sustainable aviation fuel)—harus dipercepat melalui transfer teknologi dan kemitraan investasi," ujar Jelfina.

Selama lima hari, WCD 2026 menghadirkan rangkaian agenda strategis untuk mendorong dampak ekonomi nyata, mulai dari konferensi internasional tentang ketahanan iklim dan industri pintar hingga pameran produk inovatif yang melibatkan UMKM lokal maupun mitra global. 

Panitia juga memfasilitasi forum bisnis dan business matching untuk menghubungkan langsung produsen lokal dengan pembeli internasional, sembari membekali pelaku usaha daerah melalui pelatihan kewirausahaan praktis. 

Rangkaian acara ditutup dengan kunjungan industri dan agrowisata untuk memperlihatkan potensi besar hilirisasi kelapa Indonesia kepada delegasi mancanegara.

Sinergi antara komitmen BPDP, kepemimpinan ICC, dan dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara diyakini dapat menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan nasional. 

Penyelenggaraan WCD 2026 diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan strategis serta kesepakatan bisnis dan investasi yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan jutaan petani kelapa Indonesia. (dpi)
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:39
09:03
08:41
04:56
08:50
02:47

Viral