news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Peternak memberi pakan domba berbahan limbah pertanian di kandang Koperasi Rimba Tani Sejahtera, Desa Bandungrejo, Bojonegoro, sebagai bagian dari Program Petani Hutan JTB..
Sumber :
  • tvOne - dewi rina

Dari Kebiasaan Membakar ke Ekonomi Sirkular, Kisah Petani Hutan di Sekitar Lapangan Gas JTB

Petani hutan di Bojonegoro mengolah limbah pertanian menjadi pakan domba dan kompos, sekaligus mengembangkan usaha koperasi melalui Program Petani Hutan JTB.
Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:07 WIB
Reporter:
Editor :

Bojonegoro, tvOnenews.com – Tumpukan sisa tanaman jagung, jerami, hingga kotoran ternak yang dahulu dianggap tidak memiliki nilai ekonomi kini mulai menjadi sumber penghasilan bagi warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Perubahan itu terlihat di Dusun Poh Wayang. Di sebuah kandang berukuran 15 x 6 meter, puluhan domba dipelihara secara kolektif oleh anggota Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera. Pakan ternak tidak sepenuhnya bergantung pada hijauan segar, tetapi juga memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya kerap dibakar setelah masa panen.

Sementara itu, kotoran domba yang terkumpul tidak lagi dibuang begitu saja. Limbah tersebut dibawa ke rumah produksi kompos untuk melalui proses fermentasi sebelum diolah menjadi pupuk organik dan media tanam yang memiliki nilai jual.

Bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghidupan pada lahan garapan hutan atau dikenal dengan sebutan pesanggem, perubahan tersebut membuka cara baru dalam mengelola hasil pertanian. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat dimanfaatkan kembali, bahkan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi kelompok.

Perubahan itu bukan sekadar mengenai cara mengolah sisa tanaman. Di baliknya terdapat upaya mengubah kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun, sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan meningkatkan kesejahteraan.

Sebelumnya, sebagian petani di Desa Bandungrejo terbiasa membakar sisa hasil pertanian ketika membuka lahan maupun setelah panen. Cara tersebut dianggap praktis untuk membersihkan lahan sebelum kembali digunakan pada musim tanam berikutnya.

Namun, kebiasaan itu memiliki risiko. Selain berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap pembakaran juga dikhawatirkan masuk ke kawasan fasilitas operasi Gas Processing Facilities (GPF) Jambaran-Tiung Biru (JTB).

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lahan garapan masyarakat berada di sekitar wilayah operasional fasilitas pengolahan gas. Pembakaran yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus mengganggu keselamatan dan keberlangsungan aktivitas operasi perusahaan.

Melihat kondisi tersebut, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 mengembangkan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) Biru Langit Jambaran-Tiung Biru melalui Program Petani Hutan JTB.

Program yang berjalan sejak 2022 tersebut melibatkan Koperasi Rimba Tani dengan pendampingan ALAS Institute. Pendekatannya tidak sebatas memberikan sosialisasi mengenai bahaya pembakaran lahan, tetapi juga menawarkan alternatif kegiatan ekonomi melalui pertanian organik, peternakan, dan pengolahan limbah.

Mengubah Kebiasaan Membakar Menjadi Kegiatan Produktif

Lamidi (40), salah satu pengurus Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera, mengakui mengubah kebiasaan yang telah berlangsung turun-temurun bukan perkara mudah.

Sebelum program berjalan, pembakaran sisa tanaman menjadi salah satu cara yang biasa dilakukan warga untuk membersihkan lahan. Kebiasaan tersebut telah dikenal sejak lama dan diwariskan dari generasi sebelumnya.

Karena itu, mengubah perilaku masyarakat tidak cukup hanya dengan menyampaikan larangan. Warga membutuhkan alternatif yang dapat diterapkan sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari.

"Petani awalnya suka bakar-bakar dilahan. Itu tidak boleh dilakukan lagi dan diberi solusi sama Pertamina, kalau diberi kerjaan usaha beternak bagaimana? Itu kami jawab bisa," bebernya saat ditemui awak media di lokasi peternakan mereka.

Menurut Lamidi, tawaran untuk mengembangkan usaha peternakan menjadi salah satu jalan keluar dari kebiasaan membakar limbah pertanian. Warga mulai diperkenalkan dengan pemanfaatan sisa tanaman sebagai bahan pakan ternak, sedangkan kotoran hewan dapat diolah menjadi pupuk organik.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya diminta meninggalkan kebiasaan lama, tetapi juga memperoleh keterampilan baru untuk memanfaatkan potensi yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka.

Head of Communication, Relation & Community Involvement & Development (Comm.Rel & CID) Zona 12, Agung Yunito Yahya, mengatakan program tersebut berangkat dari persoalan kebiasaan pesanggem membakar limbah pertanian saat membuka lahan maupun setelah panen.

"Ini bentuk kepedulian kepada masyarakat seputaran lokasi operasional kami. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam mengatasi persoalan kebiasaan pembakaran lahan tersebut, karena kita memberikan program pendampingan," ungkapnya.

Agung menjelaskan, perusahaan berupaya mencari solusi bersama masyarakat melalui pendampingan yang berorientasi pada pengembangan kegiatan produktif.

"Tujuan program ini adalah untuk merubah kebiasaan pesanggem membakar limbah lahan tidak ada lagi. Dan berganti dengan solusi dari kami, mengajari berternak domba dengan pakan dari limbah tanaman hingga pembuatan kompos bernilai ekonomi," tandasnya.

Menurut Agung, imbauan pemerintah mengenai kewaspadaan menghadapi musim kemarau juga menjadi salah satu alasan pentingnya edukasi kepada masyarakat. Pada kondisi cuaca kering, pembakaran sisa pertanian perlu dihindari karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.

Untuk itu, PEPC Zona 12 bersama mitra pendamping berupaya memperkenalkan pengelolaan limbah pertanian tanpa pembakaran. Salah satu pendekatannya adalah menggabungkan kegiatan pertanian dan peternakan melalui sistem agrosilvopastura.

Sistem tersebut mengombinasikan unsur kehutanan, pertanian, dan peternakan dalam satu pola pengelolaan lahan. Dalam pelaksanaannya di Desa Bandungrejo, pendekatan itu diwujudkan melalui pengembangan Program Petani Hutan JTB.

Associate Community Relation & CID Zona 12, Bedhah Adityo Nugroho, menjelaskan bahwa edukasi kepada masyarakat dilakukan dengan mengajak para petani memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku pakan ternak.

"Jika dibakar dilahan pertanian maka akan timbul api dan asap yang bisa masuk ke area operasi kita. Didalam itu ada sensor termal, yang bisa mendeteksi asap itu. Nah, cara kami mengedukasi adalah mengajak para petani di Desa Bandungrejo ini dengan mengolah limbah pertanian," beber pria asal Kota Bram Madiun ini.

Bedhah mengatakan, melalui pelatihan tersebut warga diperkenalkan dengan pengolahan limbah jagung, termasuk janggel atau bonggol jagung, menjadi bahan campuran konsentrat pakan domba.

" Dengan beternak domba adalah sebagai sarananya. Caranya adalah konsentratnya diolah dari limbah jagung seperti janggel itu. Sedangkan kotoran kambingnya bisa diolah menjadi menjadi kompos dan pemanfaatan lainnya," tandasnya.

Pemanfaatan limbah pertanian juga dilakukan dengan mengolah tanaman kacang tanah kering yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal setelah panen.

Selain dapat diberikan langsung kepada ternak, bahan tersebut dapat digunakan sebagai campuran konsentrat. Cara ini menjadi alternatif untuk menyiasati keterbatasan pakan, khususnya saat musim kemarau.

Peternakan Domba yang Dikelola Secara Kolektif

Peternakan domba menjadi salah satu unit usaha yang dikembangkan melalui Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera.

Kandang yang berada di Dusun Poh Wayang tersebut memiliki ukuran 15 x 6 meter dengan kapasitas sekitar 50 ekor. Pada awal pengembangan, jumlah domba yang dipelihara sebanyak 15 ekor. Setelah berjalan sekitar satu tahun, jumlahnya bertambah menjadi 23 ekor.

Pengelolaan peternakan dilakukan secara kolektif dengan melibatkan anggota koperasi. Para anggota bertugas merawat ternak, sedangkan pengurus melakukan pemantauan terhadap kegiatan pemeliharaan.

Pola tersebut dibangun agar usaha peternakan tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi menjadi kegiatan ekonomi bersama yang dapat memberikan manfaat bagi anggota.

Pada tahap awal pendampingan, pengembangan peternakan sempat menghadapi kendala. Sebagian anggota menginginkan domba dipelihara di rumah masing-masing. Namun, setelah melalui proses diskusi dan pendampingan, kelompok akhirnya menyepakati pengelolaan ternak secara terpusat melalui koperasi.

Andestara Anggara Putra dari ALAS Institute selaku mitra pendamping mengatakan, perubahan pola pengelolaan tersebut membutuhkan pemahaman bersama di antara calon anggota.

"Diawal kita temui kendala, mereka minta domba dipelihara dimasing-masing rumah. Kami jelaskan bahwa tidak bisa akhirnya berdiri kandang ini dengan dikelola koperasi," katanya.

Melalui sistem pengelolaan bersama, kegiatan pemeliharaan dapat dipantau dan kebutuhan peternakan lebih mudah dikoordinasikan.

Kandang juga dilengkapi tempat minum otomatis. Pembersihan dilakukan setiap pagi, sedangkan kotoran ternak dikumpulkan untuk selanjutnya dikirim ke rumah produksi kompos setiap pekan.

Skema pembagian keuntungan usaha peternakan ditetapkan berdasarkan kesepakatan tertulis, yakni 40 persen untuk koperasi dan 60 persen untuk anggota yang merawat ternak.

"Berdasarkan pada kesepakatan bersama bahwa skema kemitraan, pembagian keuntungan ditetapkan sebesar 40 persen untuk koperasi, dan 60 persen untuk anggota yang merawat ternak," ungkapnya.

Pola pembagian hasil tersebut memberikan kesempatan kepada anggota untuk memperoleh pendapatan dari kegiatan peternakan. Sementara itu, koperasi memiliki bagian untuk mendukung keberlangsungan kegiatan usaha bersama.

Selain pengelolaan ternak, anggota juga mendapat pelatihan pembuatan pakan secara mandiri. Ketersediaan pakan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan, terutama ketika musim kemarau menyebabkan sebagian bahan hijauan lebih sulit diperoleh.

Melalui pendampingan, warga diperkenalkan dengan berbagai jenis limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan. Salah satunya tanaman kacang tanah kering setelah panen yang dapat diolah menjadi pakan atau campuran konsentrat.

Lamidi mengatakan, proses pendampingan juga memperlihatkan cara memberikan pakan buatan sendiri yang memanfaatkan limbah pertanian.

"Dengan didampingi perwakilan PEPC Zona 12 dan ALAS Institute, kami memperlihatkan pengembangan ternak domba dan ditunjukkan cara memberi pakan buatan sendiri yang berasal dari limbah pertanian dan sistem pengelolaanya," ujar Lamidi.

Bagi para petani, keterampilan tersebut menjadi alternatif untuk memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar lahan garapan. Limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini dapat menjadi bagian dari kebutuhan peternakan.

Limbah Ternak Diolah Menjadi Pupuk Organik

Rantai pemanfaatan limbah tidak berhenti pada pengolahan tanaman menjadi pakan. Kotoran domba juga menjadi bahan baku produksi kompos melalui rumah produksi yang dikelola koperasi.

Di tempat tersebut, kotoran ternak dikumpulkan, difermentasi, kemudian melalui proses penggilingan dan pengemasan sebelum dipasarkan.

Rumah produksi kompos juga menerima kotoran ternak dari peternak lain. Dengan demikian, kegiatan pengolahan tidak hanya memanfaatkan limbah dari peternakan milik koperasi, tetapi juga membuka kerja sama dengan masyarakat di sekitarnya.

Wakil Pengurus Koperasi Rimba Tani, Yoso, menjelaskan bahwa proses produksi kompos dilakukan melalui beberapa tahapan sebelum produk siap dijual.

" Difermentasikan disini, kemudian diselep dan dikemas. Kemudian selanjutkan dikirim sesuai permintaan penjualan saat ini yang sudah bermitra selain warga juga ke Kota Bojonegoro," ujarnya.

Kompos dan media tanam tersebut dipasarkan dengan harga Rp10.000 per karung. Sementara kotoran ternak dari peternak lain yang digunakan sebagai bahan baku dibeli dengan harga Rp20.000 per karung.

Pengolahan limbah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Bahan yang sebelumnya dibakar atau dibuang kini dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Yoso mengungkapkan perubahan tersebut turut mengubah cara masyarakat memandang limbah pertanian dan peternakan.

"Dulu limbah jerami, bonggol jagung, dan kotoran ternak dibakar menjadi polusi. Sekarang semua dikumpulkan di rumah kompos milik koperasi. Diolah dengan metode fermentasi, limbah itu menjadi pupuk organik dan media tanam yang subur dan bernilai jual," tambahnya.

Berdasarkan data pengelola program, Koperasi Produsen Rimba Tani mengembangkan empat unit kegiatan usaha, yakni produksi kompos dan media tanam, pertanian hortikultura, peternakan domba, serta pengeringan jagung.

Keempat kegiatan tersebut dirancang saling terhubung. Limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, sementara kotoran ternak diolah menjadi kompos untuk mendukung kegiatan pertanian.

Di sisi lain, pengeringan jagung menjadi salah satu upaya memberikan nilai tambah terhadap hasil panen sebelum dipasarkan.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam program, produksi kompos dan media tanam mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp52 juta per tahun. Sementara itu, pendapatan dari kegiatan hortikultura tercatat sebesar Rp6,5 juta.

Koperasi juga disebut mampu mengolah sekitar dua hingga tiga ton limbah pertanian menjadi kompos setiap bulan. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan limbah mulai berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang dikelola masyarakat.

Namun, keberlanjutan usaha tetap membutuhkan pengelolaan yang baik. Ketersediaan bahan baku, konsistensi kualitas produk, perluasan pasar, dan kemampuan koperasi mengatur keuangan menjadi bagian penting agar usaha tidak berhenti ketika pendampingan program berkurang.

Penurunan Potensi Kebakaran dan Penguatan Ekonomi Warga

Program Petani Hutan JTB yang berjalan sejak 2022 juga mencatat sejumlah indikator dampak lingkungan dan sosial.

Berdasarkan data pengelola program, penurunan potensi kebakaran hutan dan lahan mencapai 75 persen. Selain itu, program mencatat rehabilitasi lahan kritis seluas 2,5 hektare dan pelibatan 134 orang dalam kelompok masyarakat.

Terdapat pula 837 penerima manfaat tidak langsung dan 36 peserta program pemberdayaan perempuan.

Dalam aspek pengelolaan limbah, program mencatat pengolahan tiga ton limbah pertanian menjadi kompos atau pupuk organik serta produksi 2,1 ton pakan fermentasi.

Capaian tersebut merupakan bagian dari pendekatan pemberdayaan yang menghubungkan upaya pencegahan kebakaran dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Andestara Anggara Putra mengatakan perubahan kebiasaan masyarakat membutuhkan proses komunikasi dan sosialisasi secara berkelanjutan. Menurutnya, warga perlu memahami bahwa program yang dijalankan tidak sekadar melarang pembakaran, tetapi juga menyediakan alternatif kegiatan ekonomi.

"Kita sampaikan bahwa PPEC Zona 12 memberikan solusi. Pesanggem kemudian menerima dan hingga saat ini sudah berjalan dan saat ini mereka sudah menikmati hasilnya," ungkap Andes.

Dalam pelaksanaannya, PEPC Zona 12 juga berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro, Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro, Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Bojonegoro, serta lembaga pendamping masyarakat.

Program tersebut dikembangkan melalui beberapa tahapan. Pada 2023, Gerakan Masyarakat Tanggap Api (Gemati) difokuskan pada edukasi pencegahan kebakaran, pelatihan pembuatan pupuk organik, pembentukan kelompok peduli api, dan kampanye penghentian pembakaran lahan.

Memasuki 2024, pengembangan diarahkan pada penguatan petani hutan melalui pendampingan pertanian organik. Penguatan kelembagaan juga dilakukan melalui pembentukan koperasi yang mengintegrasikan kegiatan pertanian dan peternakan.

Selanjutnya pada 2025, program dikembangkan melalui pendekatan ekonomi hijau berkelanjutan. Pendampingan diarahkan agar kegiatan usaha masyarakat dapat berkembang dan memiliki hubungan dengan jaringan kemitraan.

Untuk pengembangan 2026–2027, program mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan melalui pelatihan pupuk organik. Masyarakat juga mendapatkan dukungan empat paket alat produksi pupuk organik, pelatihan peningkatan hasil pertanian, serta penguatan kapasitas lembaga masyarakat desa hutan.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap praktik pertanian yang berisiko terhadap lingkungan.

Di samping pemberdayaan ekonomi, pendampingan juga menjadi ruang komunikasi antara perusahaan dan masyarakat di sekitar fasilitas operasi JTB.

Bedhah Adityo Nugroho mengatakan, interaksi dengan petani dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi mengenai aktivitas industri hulu migas, termasuk aspek keselamatan dan kegiatan operasional di lapangan.

"Selama berinteraksi dengan para petani, kami juga sekaligus memberikan pemahaman mengenai aktivitas hulu migas, seperti flaring, keselamatan, itu kita sampaikan secara kontinyu ke bapak-bapak ini," papar Bedhah.

Ia menjelaskan, masyarakat juga diberikan informasi mengenai aktivitas tertentu yang mungkin terlihat atau terdengar dari wilayah sekitar fasilitas operasi.

"Kita sounding misalnya kalau nanti di lapangan dengar suara gemuruh atau api lebih besar, nah bapak-bapak ini juga jadi perpanjangan kami untuk menyampaikan itu ke masyarakat," lanjutnya.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dengan warga yang berada di sekitar salah satu fasilitas industri hulu migas nasional.

Meski demikian, keberhasilan program pemberdayaan tetap perlu diukur dari kemampuan masyarakat mempertahankan manfaat ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan.

Penguatan koperasi, perluasan pasar, pengelolaan keuangan, serta peningkatan kualitas produk menjadi beberapa hal yang perlu terus dikembangkan.

Produk Lokal Ngasem Menembus Pasar Lebih Luas

Pemberdayaan masyarakat sekitar wilayah operasi JTB tidak hanya dilakukan melalui Program Petani Hutan di Desa Bandungrejo. Di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, pengembangan ekonomi juga dilakukan melalui pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam program Bolo JTB.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan pendampingan tersebut adalah Ika Furi Sumiati, pemilik usaha Sumala Snack.

Ia mengembangkan beragam makanan ringan berbahan baku lokal. Produk yang dihasilkan antara lain emping atau keripik gerut, keripik ketela ungu, kacang sangrai, keripik pisang, aneka kerupuk, hingga bubur gerut.

Aneka produk UMKM Sumala Snack binaan Program Bolo JTB di Desa Ngasem, Bojonegoro, mulai dari keripik gerut, keripik ketela ungu, hingga camilan olahan lokal lainnya.
Sumber :
  • tvOne - dewi rina

Gerut merupakan salah satu tanaman lokal yang pengolahannya membutuhkan penanganan khusus karena ketersediaannya bergantung pada musim.

Sebelum berkembang dengan beragam produk, usaha tersebut mengandalkan pengolahan gerut sebagai salah satu produk utama. Seiring meningkatnya kegiatan usaha, variasi camilan mulai ditambah untuk memperluas pilihan konsumen.

Ika mengatakan, pendampingan melalui program Bolo JTB membantu pengembangan produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.

"Alhamdulillah, emping gerut kami menjadi bagian dari UMKM Bolo JTB yang laris dan sukses dipasaran, dan kini kita juga kembangkan camilan lainnya," kata Mbak Sum, panggilan akrabnya.

Dalam sehari, usaha tersebut dapat mengolah sekitar 20 kilogram gerut basah menjadi empat kilogram keripik gerut.

Produksi makanan ringan juga melibatkan empat orang tenaga kerja yang merupakan ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar.

Keterlibatan warga setempat menunjukkan bahwa pengembangan UMKM dapat membuka kesempatan kerja di tingkat desa. Usaha rumahan tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi pemilik, tetapi juga memberikan peluang bagi masyarakat lain untuk memperoleh penghasilan.

Produk Sumala Snack juga mulai dipasarkan ke luar daerah. Perbaikan kemasan dan pengembangan kualitas produk menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas jangkauan pasar.

Pendampingan UMKM Bolo JTB dilakukan sejak 2023 oleh LIMA2B.

Perwakilan LIMA2B, Didik Jatmiko, menjelaskan pendampingan diberikan melalui peningkatan kualitas pengolahan, pengemasan, serta pemasaran produk menggunakan lokapasar. Pelaku usaha juga memperoleh kesempatan untuk mengikuti kegiatan pameran guna memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.

Salah satu kesempatan tersebut adalah keikutsertaan dalam Forum Komunikasi dan Pameran Nasional (Fokapnas) di Jakarta dengan dukungan PEPC.

Melalui kegiatan tersebut, produk UMKM binaan memiliki kesempatan untuk diperkenalkan kepada jaringan pasar di luar daerah.

Pengembangan Sumala Snack memperlihatkan potensi bahan pangan lokal ketika diolah menjadi produk bernilai tambah. Namun, sebagaimana usaha kecil lainnya, keberlanjutan produksi tetap dipengaruhi ketersediaan bahan baku, kualitas pengolahan, kemampuan pengemasan, dan konsistensi pemasaran.

Khusus untuk produk gerut yang bergantung pada musim, pengembangan variasi produk menjadi salah satu cara menjaga keberlangsungan kegiatan usaha.

Dengan demikian, program pemberdayaan masyarakat di sekitar JTB tidak hanya diarahkan pada satu sektor. Selain pertanian dan peternakan, pengembangan UMKM juga menjadi bagian dari upaya membangun sumber penghidupan masyarakat melalui potensi lokal.

Menjaga Perubahan agar Tidak Berhenti pada Program

Perubahan yang berlangsung di Desa Bandungrejo menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat.

Sisa tanaman yang dahulu dibakar mulai dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kotoran domba diproses menjadi kompos, sementara hasil pertanian dan peternakan dikembangkan melalui kelembagaan koperasi.

Di Desa Ngasem, bahan pangan lokal diolah menjadi berbagai produk makanan ringan yang membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar.

Kedua kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pemberian bantuan, tetapi juga upaya membangun keterampilan, kelembagaan, dan peluang usaha.

Head of Communication, Relation & CID PEPC JTB Field, Agung Yunito Yahya, mengatakan program pemberdayaan masyarakat dirancang agar aktivitas industri hulu migas juga dapat berkaitan dengan pengembangan ekonomi warga sekitar.

“Melalui kunjungan ini, rekan-rekan jurnalis dapat melihat aktivitas industri hulu migas dari sisi yang lebih luas. Tidak hanya berkaitan dengan produksi perusahaan namun juga keterlibatan warga sekitar dengan pemberdayaan dan juga mengubah kebiasaan karthula menjadi petani peduli lingkungan,” kata Agung Yunito Yahya.

Bagi masyarakat Bandungrejo, perubahan yang paling mudah terlihat adalah cara mereka memperlakukan sisa hasil pertanian. Limbah yang sebelumnya dibakar kini mulai dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali.

Sementara itu, keberadaan peternakan dan rumah produksi kompos membuka kegiatan ekonomi baru melalui pengelolaan bersama.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan usaha tersebut dapat berjalan secara mandiri. Koperasi perlu terus memperkuat tata kelola, menjaga kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta memastikan pembagian hasil usaha berlangsung sesuai kesepakatan anggota.

Pengukuran dampak lingkungan juga perlu dilanjutkan untuk memastikan penurunan kebiasaan pembakaran dapat dipertahankan. Demikian pula dengan pencatatan pendapatan usaha agar perkembangan ekonomi kelompok dapat dipantau secara transparan.

Bagi petani penggarap lahan hutan, upaya menjaga lingkungan dan mencari penghasilan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Pengolahan limbah menjadi pakan dan kompos memberikan contoh bahwa sisa hasil pertanian dapat dimanfaatkan kembali, sementara peternakan memberikan ruang usaha baru bagi masyarakat.

Di sisi lain, pengembangan produk pangan lokal di Desa Ngasem memperlihatkan bahwa potensi desa dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang melibatkan lebih banyak warga.

Kehadiran koperasi dan pendampingan usaha menjadi bagian penting untuk menghubungkan potensi tersebut dengan peluang pasar.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya jumlah bantuan, ternak, atau kegiatan yang terlaksana. Lebih dari itu, keberhasilan terlihat ketika masyarakat mampu mempertahankan perubahan perilaku, mengelola usaha secara mandiri, dan merasakan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Di sekitar Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru, perubahan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana: tidak lagi membakar limbah panen, melainkan mengolahnya menjadi sumber penghidupan. (dra/gol)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:21
14:13
09:50
04:54
08:02
14:03

Viral